KETIKKABAR.com – Langkah Presiden Prabowo Subianto yang terjun langsung melakukan diplomasi energi ke negara-negara strategis seperti Jepang dan Rusia dinilai sebagai upaya memperkuat posisi tawar Indonesia.
Keterlibatan kepala negara ini dipandang muncul akibat adanya keraguan terhadap kapasitas serta kemampuan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, dalam melakukan lobi di tingkat internasional.
Pengamat politik dari Citra Institute, Efriza, menyatakan bahwa sektor energi memiliki dimensi geopolitik yang sangat krusial bagi kepentingan nasional. Oleh karena itu, bobot diplomasi yang dibawa langsung oleh Presiden dianggap jauh lebih efektif dibandingkan jika hanya dilakukan oleh menteri teknis.
“Isu energi tak dimungkiri memiliki dimensi geopolitik dan kepentingan nasional yang tinggi sehingga membutuhkan bobot diplomasi tingkat tinggi kepala negara untuk memperkuat posisi tawar Indonesia,” ujar Efriza kepada awak media di Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Efriza menilai, kepercayaan publik maupun pelaku pasar terhadap hasil diplomasi akan rendah jika peran tersebut sepenuhnya diserahkan kepada Bahlil Lahadalia. Ia menyoroti gaya komunikasi politik Bahlil di dalam negeri yang dianggap masih lemah, bahkan untuk sekadar menangani isu ketahanan energi domestik.
“Sebab untuk sekadar menanyakan ketahanan energi dalam domestik saja, komunikasi politik Bahlil sudah berkonotasi tingkat rendah,” tuturnya.
Selain persoalan kapasitas diplomasi, kinerja Bahlil dalam menangani kebijakan strategis di dalam negeri juga tak luput dari sorotan publik. Efriza menyinggung isu pembatasan distribusi gas LPG ke tingkat pengecer yang sempat viral dan menuai kritik tajam hingga menjadi sasaran olok-olok netizen di media sosial.
Sentimen negatif tersebut, menurut Efriza, menjadi pertimbangan besar bagi Presiden untuk mengambil alih peran lobi internasional guna menghindari kegagalan yang dapat berdampak buruk pada citra pemerintah.
“Yang akhirnya malah jadi olok-olok netizen, apalagi jika dipercayakan kepada Bahlil dan ternyata tidak berhasil, memungkinkan jadi bahan olok-olok,” pungkas Efriza. []


















