KETIKKABAR.com – Rismon Sianipar melontarkan kritik tajam terhadap Refly Harun terkait pernyataan mengenai buku Jokowi’s White Paper (JWP).
Rismon menilai Refly seolah-olah bertindak sebagai juru bicara dan merasa paling tahu mengenai detail internal buku tersebut, padahal Refly bukan merupakan bagian dari tim penulis.
Kritik keras ini disampaikan Rismon melalui akun YouTube Balige Academy, Jumat (24/4/2026), menyusul perdebatan antara keduanya di salah satu stasiun televisi swasta.
Rismon mempertanyakan dasar pengetahuan Refly mengenai perjanjian awal hingga aspek finansial buku yang disusun bersama Roy Suryo dan Dokter Tifa itu.
“Refly Harun itu ada hubungan apa dengan Tifa? Sepertinya dia lebih tahu dari saya tentang perjanjian awal, keuangan, jumlah buku tercetak, jumlah buku terjual. Memang siapa dia? Apa yang mengizinkan Refly Harun dengan Tifa?”, ujar Rismon.
Rismon menekankan bahwa meskipun Refly bertindak sebagai pengacara Roy Suryo dan Dokter Tifa dalam kasus dugaan ijazah palsu, hal tersebut tidak memberikan wewenang kepadanya untuk mencampuri urusan teknis penerbitan buku JWP.
“Seolah jadi jubirnya Tifa. Memangnya hubungan kalian apa? Kan nggak ada hubungannya dengan buku kan? Harusnya pantang bagimu berkomentar tentang itu. Karena kau bukan penulis,” tandas Rismon.
Selain masalah kapasitas, Rismon juga membantah klaim Refly yang mengaku telah mengeluarkan uang hingga ratusan juta rupiah untuk menerbitkan buku tersebut.
Ia mendesak agar klaim keuangan tersebut dibuktikan melalui audit resmi, bukan sekadar pernyataan lisan.
“Orang harus ada bukti. Yaitu audit rekening koran Tifa dan Astuti. Bukan oleh statementmu Refly. Saya tidak tahu hubungan kau apa dengan Tifa. Kok bisa lebih tahu tentang keuangan buku JWP,” bebernya.
Perselisihan ini merupakan kelanjutan dari pecahnya kongsi antara Rismon dengan Roy Suryo dan Dokter Tifa. Rismon mengungkap adanya ketidakterbukaan dalam pengelolaan keuangan serta pelanggaran kesepakatan awal terkait penerbitan.
Menurut Rismon, perjanjian lisan awalnya menyepakati buku dicetak oleh penerbit pihak ketiga dengan International Standard Book Number (ISBN).
Namun, pada praktiknya, buku tersebut justru diterbitkan oleh percetakan milik Dokter Tifa secara mandiri tanpa disertai ISBN. []


















