KETIKKABAR.com – Di tengah derasnya arus politik dan gelombang skeptisisme publik, sebuah nama lama kembali mencuat.
Roy Suryo, pakar telematika dan alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM), kembali menyulut polemik lama yang tak kunjung padam: dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi).
Di acara Rakyat Bersuara bersama Aiman Witjaksono, yang tayang di iNews TV, Roy berbicara bukan hanya dengan spekulasi, tapi dengan nada yang menahan sesuatu.
Ia menyimpan “kapan” dan “siapa”, tapi memberi cukup potongan teka-teki untuk menyalakan kembali api keraguan.
“Saya gak akan buka di sini. Tapi ada oknum dari UGM yang melakukan perubahan lagi pada tahun 2025,” ujar Roy, dingin, seraya menyiratkan bahwa skripsi Jokowi mengalami rekonstruksi digital yang bisa dilacak.
Saling Silang Nama dan Jabatan
Sorotan Roy mengerucut pada satu hal yang tampak sepele namun krusial: siapa dekan Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 1985, tahun tertera dalam ijazah Jokowi.
Situs UGM sempat mencantumkan nama Prof. Dr. Sunardi Prawirohatmodjo, namun jejak lain menyebut Prof. Dr. Ir. Ahmad Sumitro sebagai dekan dari tahun 1970-an hingga 1988.
“Aneh, nama Pak Nardi tiba-tiba muncul nyempil, lalu hilang, lalu balik lagi ke Pak Ahmad Sumitro,” ujar Roy.
Dan menurut Roy, pergeseran ini bukan sekadar ralat biasa, melainkan indikasi upaya penyesuaian narasi akademik terhadap dokumen yang telah dikritisi publik.
Skripsi Tanpa Lembar Pengesahan?
Isu tak berhenti pada nama dekan. Roy bahkan menyatakan telah melihat langsung skripsi Jokowi di repositori UGM, bersama dua tokoh lain: Dr. Tifa dan Rismon, yang juga menggugat keabsahan ijazah Presiden.
“Tak ada lembar pengesahan. Kami sudah cek,” kata Roy tegas.
Sementara pengacara Jokowi, Yakup Hasibuan, menyebut lembar pengesahan itu ada.
Namun saat Roy menantang: “Apakah Anda sendiri sudah melihatnya?”, Yakup memilih berlindung di balik frasa familiar:
“Bukan kapasitas saya untuk menjawab.”
Pertarungan Data dan Kepercayaan
Apa yang sedang terjadi? Mungkin bukan semata adu argumen soal dokumen akademik. Tapi tentang bagaimana kebenaran hari ini bisa dikoreksi, diperbarui, atau bahkan dikaburkan di era digital.
Roy menyebut repositori UGM merekam waktu upload skripsi Jokowi. Waktunya? Ia enggan menyebut. Tapi jejaknya, katanya, “mudah dilacak.”[]




















