KETIKKABAR.com – Kritik terakhir aktivis buruh Ermanto Usman (65) terungkap sebelum ditemukan tewas di rumahnya di kawasan Jatibening, Pondok Gede, Kota Bekasi.
Sebelum meninggal, Ermanto diketahui sempat menyuarakan kritik tajam terkait dugaan kasus korupsi.
Ermanto merupakan pensiunan Jakarta International Container Terminal (JICT) dan dikenal sebagai aktivis buruh yang vokal.
Kakak kandungnya, Dalsaf Usman, mengatakan Ermanto bahkan sempat dua kali dipecat dari JICT yang merupakan anak perusahaan Pelindo karena dinilai terlalu berani menyuarakan aspirasi serikat buruh.
“Ia dipecat karena memang mengkritik kebijakan yang tidak sesuai prosedur,” kata Dalsaf.
Selama masa kerjanya, Ermanto pernah menjabat sebagai Manager HRD JICT dan Ketua Persatuan Pensiunan JICT. Ia juga dikenal aktif menyuarakan berbagai isu, termasuk dugaan korupsi di lingkungan Pelindo.
Pandangan-pandangannya kerap disampaikan melalui podcast, salah satunya terkait perpanjangan kontrak JICT dengan perusahaan asal Hong Kong, Hutchison Port Holdings (HPH).
Anaknya, Fiandy A Putra (33), menyebut ayahnya sangat antusias membuat podcast untuk membuka kebenaran demi kepentingan para pekerja di lapangan, meskipun keluarga menyadari risiko yang mungkin terjadi.
Kritik terakhirnya disampaikan saat menjadi narasumber di kanal YouTube Forum Keadilan TV dalam program Madilog berjudul ‘Pelindo Boneka PT Hutchison (Hongkong).
Ada Pemerintah di Atas Pemerintah’ yang tayang pada 15 Desember 2025. Dalam podcast tersebut, ia menyebutkan beberapa nama pejabat terkait proses tata kelola dan lobi di Pelindo.
Anggota DPR RI Rieke Diah Pitaloka juga menyoroti bahwa Ermanto baru-baru ini kembali menyuarakan dugaan kasus korupsi di pelabuhan yang disebut-sebut “dipeti-eskan”.
Ermanto ditemukan tewas pada 2 Maret 2026, sementara istrinya, Pasmilawati (60), ditemukan dalam kondisi kritis.
Rieke menduga kematian Ermanto bukan sekadar perampokan karena tidak ada barang berharga yang hilang, kecuali kunci mobil, dompet, dan ponsel.
Ia meminta polisi melakukan investigasi lebih mendalam untuk menemukan tidak hanya eksekutor lapangan, tetapi juga otak di balik indikasi pembunuhan tersebut.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota Andi Muhammad Iqbal menyatakan penyidikan masih menghadapi kendala minimnya bukti karena tidak adanya CCTV di rumah korban dan terbatasnya saksi yang dapat membantu identifikasi pelaku. []




















