KETIKKABAR.com — Kepala Bidang Sosial Politik Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Muhammad Hafizh Hernanda, melayangkan kritik tajam terhadap gaya kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto di sela-sela aksi unjuk rasa di sekitar kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026).
Hafizh menilai kepemimpinan Prabowo mengindikasikan keinginan untuk memusatkan seluruh kekuasaan, mirip dengan corak pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Kedua RI, Soeharto.
menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai sarat ambisi tanpa memperhitungkan dampak turunannya.
“Prabowo pidato yang benar, jangan nafsu, tolong ingat, menurut kami ya sekarang Prabowo itu ingin mengambil seluruh kekuasaan di tangan dia doang, dia ibaratnya ingin menjadi Soeharto terbaru. Kita bisa lihat dari berbagai macam kebijakan-kebijakannya: MBG, Patriot Bond, KDMP, Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda dan URI,” kata dia saat ditemui sela-sela demo.
Selain itu, Hafizh menyoroti kebijakan anggaran yang berdampak langsung pada keuangan daerah, salah satunya melalui pemotongan Transfer Keuangan Daerah (TKD).
Menurutnya, langkah tersebut mencerminkan kurangnya kepercayaan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dan justru membebani masyarakat, seperti yang terjadi di Pati akibat kenaikan pajak.
“Tapi yang kita highlight itu pemotongan TKD, ini menyedihkan, ada ketidakpercayaan pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah, padahal pemda sama-sama berguna dengan pemerintah pusat, bayangkan ini yang terjadi di Pati, ketika TKD mereka dipotong dan akhirnya mereka menaikkan pajak, belum lagi kita lihat tax ratio kita, jauh lebih besar dari Malaysia, Singapura, tapi kita masih miskin,” ucapnya.
Dalam aksi tersebut, BEM UI juga mendesak pasangan Prabowo-Gibran agar lebih serius bekerja menyelesaikan berbagai persoalan riil di tengah masyarakat daripada sekadar menyampaikan pidato politik yang dinilai merendahkan kelompok masyarakat tertentu.
“Kepada Prabowo-Gibran, kerja yang benar, jangan ketika sampai teman-teman pers dipanggil Londo Ireng, teman-teman mahasiswa, teman-teman mahasiswa dipanggil mahasewa, kita gak butuh Soekarno yang pidato bla, bla, kita butuh pemimpin yang mendengarkan kita,” imbuh dia.[]










