KETIKKABAR.com – Penerobosan yang dilakukan kelompok sayap kanan Israel ke Masjid al-Aqsa semakin intens, kini bahkan disertai dengan aksi ibadah yang secara historis dilarang.
Kompleks Masjid al-Aqsa, yang juga dikenal sebagai al-Haram al-Sharif, berdiri di dataran tinggi yang oleh orang Yahudi disebut Temple Mount (Bukit Bait Suci).
Status quo yang telah berlaku berabad-abad kini terancam oleh meningkatnya pengaruh kelompok ultra-nasionalis Yahudi.
Sejarah Status Quo di Al-Aqsa
Masjid al-Aqsa adalah salah satu situs paling suci dalam Islam, sementara bagi umat Yahudi, Temple Mount diyakini sebagai lokasi dua kuil kuno yang pernah menjadi pusat kerajaan Yahudi.
Bagian yang tersisa dari Kuil Kedua adalah Tembok Barat, yang kini menjadi situs suci utama untuk doa Yahudi.
Namun, sejak masa Kesultanan Turki Utsmaniyah pada tahun 1757, sebuah dekrit yang dikenal sebagai “Status Quo” dikeluarkan. Dekrit ini melarang non-Muslim memasuki Al-Aqsa dan melarang orang Yahudi beribadah di Tembok Barat.
Aturan ini bertujuan mencegah bentrokan sektarian dan dipertahankan oleh Inggris setelah merebut Yerusalem pada Perang Dunia I.
Larangan ini bahkan didukung oleh para Rabbi Yahudi sendiri. Sejak tahun 1921, Kepala Rabbi Yerusalem melarang umatnya memasuki Temple Mount, karena diyakini tempat tersebut adalah Mahakudus, di mana kehadiran Tuhan muncul.
Oleh karena itu, memasuki situs tersebut tanpa “suci secara ritual” dianggap sebagai tindakan penodaan. Mayoritas Yahudi Ortodoks menghormati larangan ini, memusatkan doa mereka di Tembok Barat.
Perubahan Pasca-1967 dan Munculnya Kelompok Ultra-Nasionalis
Pada tahun 1967, Israel merebut Kota Tua Yerusalem dari Yordania. Meskipun secara resmi Israel masih mempertahankan Status Quo, pengelolaan situs-situs Islam diserahkan kepada pemerintah Yordania.
Namun, pendudukan ini memicu munculnya gerakan yang menyerukan agar orang Yahudi diizinkan beribadah di Temple Mount.
Gerakan ini, yang awalnya merupakan pandangan minoritas, kini semakin kuat. Beberapa kelompok agama Yahudi bahkan menyerukan pembangunan Kuil Ketiga di lokasi yang sama, sebuah tindakan yang dianggap sebagai penanda “Akhir Zaman” dalam keyakinan mereka.
Ariel Sharon, yang saat itu pemimpin oposisi Israel, pernah memicu kemarahan pada tahun 2000 saat memasuki kompleks Al-Aqsa, memicu Intifada Kedua yang berlangsung selama lima tahun.
Peran Itamar Ben Gvir dan Gerakan Zionis Religius
Saat ini, salah satu tokoh utama di balik penerobosan ini adalah Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir, pemimpin partai sayap kanan Yahudi Power.
Partai ini adalah pewaris ideologi Meir Kahane, seorang Rabbi yang menganjurkan Israel sebagai negara teokrasi tanpa kewarganegaraan non-Yahudi.
Ben-Gvir dan para pengikut Kahanis menganggap Temple Mount sebagai situs suci utama bagi orang Yahudi, dan beberapa menyerukan pembongkaran Masjid Al-Aqsa untuk membangun Kuil Ketiga.
Ben-Gvir sendiri memiliki sejarah panjang dalam aktivitas hasutan terkait Al-Aqsa dan pernah ditangkap di situs tersebut.
Menjelang kunjungannya yang provokatif pada 3 Januari lalu, Ben-Gvir menyebut situasi di Al-Aqsa sebagai “apartheid”, mengklaim adanya diskriminasi terhadap umat Yahudi.
Bukan Hanya Isu Agama, Tapi Perebutan Kekuasaan
Para ahli, seperti Yehuda Glick dari kelompok HaLiba, mencoba menarasikan ibadah Yahudi di Temple Mount sebagai masalah kebebasan beragama. Namun, banyak pihak melihatnya sebagai masalah ketidakseimbangan kekuasaan.
Meskipun Israel mencaplok Yerusalem Timur, tindakan ini tidak diakui oleh komunitas internasional. Kawasan tersebut masih dianggap sebagai wilayah pendudukan militer.
Penduduk Palestina di sana tidak memiliki hak kewarganegaraan penuh, sementara jumlah pemukim Israel terus bertambah.
Al-Aqsa adalah simbol kehadiran Islam dan identitas nasional Palestina yang paling bertahan lama.
Upaya kelompok ultra-nasionalis Yahudi untuk meningkatkan kehadiran di sana bukan hanya soal akses ke tempat suci, melainkan juga simbol pengambilalihan ikon utama budaya Palestina.
Pada tahun 2022, tercatat 51.483 orang Yahudi mengunjungi situs tersebut. Tindakan ini, yang didukung oleh militer Israel, dihadapkan pada jamaah Palestina yang memiliki sedikit perlindungan atau hak.
Ini menunjukkan bahwa di balik isu keagamaan, ada perebutan kekuasaan yang lebih besar di Yerusalem.[]
Saudi dan Yordania Kecam Keras Kunjungan Menteri Israel ke Masjid Al-Aqsa




















