KETIKKABAR.com – Di tengah gegap gempita pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), sebuah sisi gelap mulai mencuat ke permukaan: praktik prostitusi berkedok layanan open BO berbasis aplikasi.
Fenomena ini bukan sekadar desas-desus. Di balik hiruk-pikuk truk proyek dan megastruktur yang menjulang, geliat bisnis esek-esek justru tumbuh subur, terorganisasi, tersembunyi, namun nyata.
Investigasi lapangan oleh Tribun Kaltim mengungkap praktik ini telah berjalan sejak awal pembangunan IKN. Modusnya pun tak asing lagi: memanfaatkan aplikasi pesan instan dan media sosial untuk menawarkan jasa secara daring.
“Buanyak! Tinggal Pilih Modelnya” – Pengakuan Pekerja Proyek
Ketika wartawan Tribun menyambangi kawasan Sepaku pada awal Mei 2025, sejumlah pekerja konstruksi IKN dengan terbuka membenarkan praktik tersebut.
“Coba buka aplikasinya, isinya ratusan. Mau yang kayak gimana tinggal pilih,” ujar Sugianto, salah satu pekerja proyek, yang disambut tawa rekan-rekannya.
Para pekerja mengakui, keberadaan para PSK ini menjadi semacam “pelarian kebutuhan biologis”, mengingat sebagian besar dari mereka merupakan perantau yang jauh dari keluarga.
Tarif dan Transaksi: Rp400 – 700 Ribu per Kencan
Dari hasil uji coba aplikasi oleh wartawan Tribun, belasan akun langsung menawarkan jasa, lengkap dengan tarif, layanan, dan share location ke sejumlah guest house di sekitar Sepaku.
“Open BO ST 600, bisa nego, full service. Gercep ya kak,” tulis akun bernama “Rena”, sambil mengirimkan titik lokasi guest house di Desa Bumi Harapan.
Rata-rata tarif berkisar Rp400 ribu hingga Rp700 ribu per sesi, tergantung durasi dan layanan. Para pelaku biasanya menetap sementara di penginapan harian, menyewa kamar untuk menerima pelanggan yang telah mereka jaring via aplikasi.
PSK: “Capek, Tapi Duitnya Lumayan”
Beberapa PSK yang berhasil diwawancarai mengaku bisa melayani hingga 10 pelanggan dalam sehari.
“Kadang capek, tapi duitnya lumayan,” ujar salah satu dari mereka di sebuah kafe kawasan Sepaku.
Baca Juga: Prostitusi Daring Menjamur di Sekitar IKN, Satpol PP & Polisi Mulai Bergerak
Mayoritas pelanggan mereka adalah pekerja proyek IKN dari luar daerah. Beberapa PSK mengungkapkan, pendekatan awal mereka bahkan dimulai dengan pura-pura mencari lowongan kerja, lalu mengalihkan obrolan ke transaksi seksual.
“Awalnya nanya kerjaan, tapi lama-lama jadi tamu juga,” kata salah seorang PSK.
Mereka juga kerap saling berbagi pelanggan antar rekan sesama PSK, berdasarkan rekomendasi atau permintaan khusus pelanggan.
Warga dan Aparat Mengakui: “Sudah Lama, Sulit Diberantas”
Warga lokal seperti Ramlan dan Andi Armada di Desa Bumi Harapan mengaku tidak kaget.
“Sudah lama itu. Mereka biasanya nyewa guest house, datang pergi. Gak menetap,” ujar Ramlan.
Penertiban Satpol PP: 30 PSK Diamankan, Tapi Berganti Wajah
Kepala Bidang Trantibum Satpol PP PPU, Rakhmadi, menyebut pihaknya telah mengamankan 30 PSK selama tiga bulan terakhir, sebagian besar berasal dari luar Kalimantan, seperti Jawa Barat, Makassar, dan Balikpapan.
“Modusnya sama: sewa kamar di guest house, aktifkan aplikasi, cari pelanggan,” ujar Rakhmadi.
Namun penertiban bukan tanpa tantangan. Setelah PSK dipulangkan, dalam hitungan hari datang wajah-wajah baru.
Tantangan Serius di Tengah Ambisi Besar
Fenomena ini membuka pertanyaan besar: bagaimana pemerintah mengelola dampak sosial dari megaproyek beranggaran triliunan rupiah ini?
“Kami minta kerja sama pemilik guest house, RT, tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk edukasi dan penyaringan tamu,” tegas Rakhmadi.
Jika tidak diatasi dengan serius, praktik ini bukan hanya mencoreng wajah proyek IKN sebagai simbol masa depan Indonesia, tapi juga meninggalkan lubang sosial yang bisa membesar di kemudian hari.[]

















