Internasional

Trump Ancam Serangan Militer ke Iran, Desak Segera Sepakati Perjanjian Nuklir

KETIKKABAR.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengancam akan melancarkan aksi militer terhadap Iran sambil mendesak Teheran segera menyepakati perjanjian nuklir.

Ancaman tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan dan kebuntuan diplomasi kedua negara.

Dalam unggahan di Truth Social pada Rabu (28/1/2026), Trump menyebut AS telah mengerahkan kekuatan militer besar ke sekitar wilayah Iran. Ia menegaskan pergerakan tersebut dilakukan dengan cepat dan penuh kekuatan.

“Armada besar sedang menuju Iran. Pergerakan ini cepat, dengan kekuatan, antusiasme, dan tujuan yang besar,” tulis Trump dikutip dari Al Jazeera.

Trump berharap Iran segera bersedia berunding untuk mencapai kesepakatan nuklir. Ia menegaskan tuntutan utama AS agar Iran tidak memiliki senjata nuklir.

“Mudah-mudahan Iran segera datang ke meja perundingan dan menegosiasikan kesepakatan yang adil – TANPA SENJATA NUKLIR – yang baik untuk semua pihak. Waktu hampir habis. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya: BUAT KESEPAKATAN!” tulisnya.

Trump juga menyinggung pengeboman AS terhadap tiga fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu. Ia memperingatkan serangan lanjutan akan lebih besar jika Iran menolak kesepakatan.

Pernyataan Trump muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Teheran tidak akan berunding di bawah ancaman militer. Ia menyebut tidak ada kontak atau permintaan negosiasi dari pihak Iran.

“Tidak ada kontak antara saya dan utusan AS Steve Witkoff dalam beberapa hari terakhir, dan tidak ada permintaan negosiasi dari pihak kami,” kata Araghchi.

Araghchi menegaskan sikap Iran menolak negosiasi yang disertai tekanan. Menurutnya, dialog hanya mungkin jika ancaman dihentikan.

“Sikap kami jelas: Negosiasi tidak sejalan dengan ancaman. Pembicaraan hanya mungkin dilakukan ketika ancaman dihentikan dan tuntutan berlebihan dikesampingkan,” ujarnya.

BACA JUGA:
Iran Tuding AS Langgar Gencatan Senjata Usai Serangan Tanker di Selat Hormuz

Di sisi lain, Al Jazeera melaporkan diplomasi tetap berlangsung di balik layar. Upaya tersebut dilakukan melalui mediator internasional di tengah situasi yang dinilai sangat serius.

“Tampaknya banyak aktivitas diplomatik di balik layar. Para mediator berupaya maksimal mencari solusi karena situasi saat ini sangat serius,” kata koresponden Al Jazeera di Teheran, Ali Hashem.

Hashem menyebut Iran secara terbuka siap menghadapi perang, namun masih membuka peluang dialog. Kesediaan itu disebut tidak akan dilakukan di bawah tekanan militer.

Ketegangan meningkat setelah AS memindahkan kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan tersebut. Langkah ini memicu kekhawatiran akan terjadinya konfrontasi militer terbuka.

Profesor hubungan internasional Universitas Qatar, Adnan Hayajneh, menilai langkah AS sebagai bentuk tekanan. Ia menyebutnya sebagai “pertunjukan kekuatan” Washington terhadap Iran.

“Pesan AS jelas: jika Iran tidak mengikuti apa yang diinginkan, maka opsi militer akan dijalankan,” kata Hayajneh.

Menurut Hayajneh, AS ingin menghentikan program nuklir dan rudal Iran. Washington juga berupaya membatasi pengaruh Teheran yang dinilai mengancam dominasi Israel.

Ia menilai ancaman Iran cenderung mengikuti pola sebelumnya. Dalam konflik dengan Israel tahun lalu, ancaman keras tidak sepenuhnya terwujud.

“Pada akhirnya, ancaman itu tidak sepenuhnya diwujudkan. Israel mengendalikan langit,” ujarnya.

Trump sebelumnya juga mengaitkan ancaman militer dengan tindakan keras Iran terhadap protes domestik. Ia menilai situasi tersebut memperburuk ketegangan kawasan.

BACA JUGA:
AS dan Iran Dijadwalkan Kembali Gelar Perundingan Damai di Islamabad Pekan Depan

Araghchi sendiri menyatakan Iran siap menghadapi perang jika AS ingin “menguji” kekuatannya. Presiden Iran Masoud Pezeshkian turut mengecam ancaman AS sebagai pemicu instabilitas regional.

Meski demikian, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengatakan Iran pada prinsipnya masih terbuka untuk dialog. Pembahasan isu nuklir dinilai masih mungkin jika kondisi memungkinkan.

Ketegangan regional meningkat sejak AS dan Israel mengebom tiga fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu. Serangan selama 12 hari itu menewaskan sedikitnya 430 orang.

Iran mengancam akan memberikan respons “menyeluruh dan menyakitkan” jika kembali diserang. Trump mengklaim serangan itu telah melenyapkan program nuklir Iran.

Namun Iran menegaskan program nuklirnya bersifat sipil. Teheran menyebut pengayaan uranium sebagai hak kedaulatan, meski keberadaan uranium yang diperkaya masih belum diketahui.

Ancaman AS turut memicu ketegangan kawasan. Iran menyatakan akan menyerang pangkalan militer AS jika diserang kembali.

Latihan militer dilakukan Iran dan AS di sekitar Selat Hormuz. Garda Revolusi Iran juga memperingatkan negara tetangga agar tidak memberi akses wilayahnya kepada AS.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah udaranya digunakan untuk menyerang Iran. Sementara itu, Mesir dan Turki terus berupaya meredam eskalasi.

Namun analis menilai keputusan akhir tetap berada di tangan Trump. Peran aktor regional dinilai tidak terlalu dipertimbangkan.

“Pada akhirnya, Trump tidak terlalu mempertimbangkan aktor regional,” kata Hayajneh. “Dia lebih banyak mendengarkan dirinya sendiri.”

Ketegangan Memuncak, Iran Gelar Latihan Tembak Langsung di Selat Hormuz

TERKAIT LAINNYA