KETIKKABAR.com — Sedikitnya 11 orang tewas dan 29 lainnya terluka dalam penembakan massal di Pantai Bondi, Sydney, Australia, pada Ahad, saat ratusan orang berkumpul merayakan hari pertama Hanukkah.
Dari korban meninggal, korban pertama yang berhasil diidentifikasi adalah Rabbi Eli Schlanger.
Kepolisian Australia menyatakan penembakan tersebut menewaskan sedikitnya 11 orang dan melukai 29 orang, termasuk dua petugas polisi. Seorang pria yang diyakini sebagai salah satu penembak dilaporkan tewas di lokasi kejadian, sementara satu tersangka penembak lainnya berada dalam kondisi kritis.
Otoritas menyebut insiden ini sebagai serangan “teroris” yang “dirancang untuk menargetkan komunitas Yahudi Sydney pada hari pertama Hanukkah”.
Laporan Aljazirah menyebutkan Rabbi Eli Schlanger tergabung dalam kelompok ultra-Ortodoks Chabad. Kelompok tersebut dikenal sangat terlibat dalam pemukiman ilegal dan memiliki hubungan erat dengan tentara Israel.
Pada Oktober 2023, Eli Schlanger dilaporkan pergi ke wilayah yang dikuasai Israel untuk memberi semangat kepada tentara yang bersiap menyerang Gaza.
Dalam keterangannya yang dilansir Australian Jewish News, Schlanger pernah menceritakan kunjungannya ke sebuah pangkalan militer dekat perbatasan Gaza.
“Kami membuat daging panggang besar-besaran untuk mereka dan menabuh musik. Kami hanya berdansa sepanjang malam bersama mereka, memeluk mereka, dan mereka sangat bersyukur karena kami datang jauh-jauh dari luar negeri untuk bisa memberi mereka kekuatan itu,” ujarnya kala itu.
The Guardian melaporkan, Eli Schlanger juga pernah berurusan dengan hukum Australia pada 2018. Ia termasuk salah satu rabi senior yang disebut dalam kasus yang digambarkan seorang penyintas sebagai upaya meremehkan pelecehan seksual terhadap anak-anak di komunitas Yahudi Ortodoks.
Schlanger bersama tiga rabi lainnya didesak mengundurkan diri dari lembaga tertinggi rabi Ortodoks di Australia setelah dinyatakan bersalah melakukan penghinaan terhadap pengadilan karena menekan anggota komunitas agar mengabaikan otoritas sekuler.
Pada tahun yang sama, pengadilan banding New South Wales menguatkan putusan Mahkamah Agung NSW yang menyatakan empat rabi dari Dewan Rabinik Australia dan Selandia Baru—termasuk presidennya, Rabbi Moshe Gutnick—bersalah melakukan tindak pidana penghinaan terhadap pengadilan.
Pengadilan menemukan bahwa Gutnick bersama Rabbi Eli Schlanger, Rabbi Yehoram Ullman, dan Rabbi Michael Chriqui telah menekan anggota komunitas mereka, Reuven Barukh, agar tidak menghadiri pengadilan sekuler terkait sengketa bisnis, dan mendorong penyelesaian perkara melalui hukum agama Yahudi di Beth Din.
Dewan Rabinik Australia dan Selandia Baru sendiri didirikan untuk menggantikan Organisasi Rabi Australasia, yang dibubarkan setelah sebuah komisi khusus Australia menemukan adanya penutupan kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak, kegagalan melaporkan kejahatan tersebut kepada otoritas sekuler, serta intimidasi terhadap para korban dan keluarga mereka.
Menanggapi penembakan di Pantai Bondi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa anti-Semitisme seperti kanker yang akan tumbuh jika tidak ditangani.
Pernyataan itu diarahkan kepada pemerintah Australia, yang hubungannya dengan Israel kian tegang setelah Australia mengakui Palestina.
Sejumlah politisi Israel, lintas afiliasi politik, mengaitkan pengakuan Australia terhadap Palestina dengan apa yang mereka sebut sebagai meningkatnya anti-Semitisme. Mereka juga menyatakan Israel telah menyampaikan informasi kepada pemerintah Australia mengenai aktivitas anti-Semit.
Sementara itu, pihak berwenang Australia masih melanjutkan penyelidikan untuk mengungkap motif dan jaringan di balik penembakan massal tersebut, yang mengguncang Sydney dan memicu duka mendalam di komunitas Yahudi setempat. []




















