KETIKKABAR.com – Hanya berselang sehari pasca pengumuman pembukaannya, otoritas Iran membatalkan keputusan tersebut dan kembali memberlakukan kontrol militer yang ketat atas Selat Hormuz.
Langkah putar balik ini diambil sebagai respons balasan atas berlanjutnya blokade Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) terhadap pelabuhan-pelabuhan milik Teheran.
Melansir laporan The Guardian, ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memicu ketidakpastian di perairan strategis Timur Tengah.
Kurang dari 24 jam setelah Selat Hormuz dinyatakan terbuka sepenuhnya untuk pelayaran internasional pada Jumat (17/4), Iran memutuskan untuk mengembalikan status keamanan selat tersebut ke kondisi semula.
Berdasarkan laporan media lokal Iran, komando operasional militer Iran, Khatam Al-Anbiya, mengecam keras blokade laut yang terus dilakukan oleh Amerika Serikat dan menyamakannya dengan tindakan “pembajakan”.
Perselisihan inilah yang menjadi alasan utama militer Iran mengambil alih kembali otoritas penuh di jalur pelayaran tersebut.
“Karena alasan ini, kendali atas Selat Hormuz telah kembali ke kondisi sebelumnya, dan jalur air strategis ini berada di bawah manajemen dan kendali ketat angkatan bersenjata,” tegas perwakilan Khatam Al-Anbiya dalam pernyataan resminya.
Pihak militer Iran menetapkan syarat mutlak sebelum status Selat Hormuz dapat kembali dilonggarkan. Mereka menuntut pencabutan blokade laut secara total oleh pihak AS.
“Sampai AS memulihkan kebebasan navigasi sepenuhnya untuk kapal-kapal dari asal Iran ke tujuan, dan dari tujuan kembali ke Iran, situasi di Selat Hormuz akan tetap dikendalikan secara ketat dan dalam kondisi sebelumnya,” tambah perwakilan tersebut.
Perkembangan terbaru ini memicu kebingungan dan kekhawatiran global mengenai kelancaran logistik di Selat Hormuz, sebuah jalur air krusial yang sebelumnya mengangkut seperlima dari total pasokan minyak dunia.
Kronologi memanasnya situasi ini bermula ketika Iran dan Presiden AS Donald Trump sempat mengumumkan pembukaan kembali selat tersebut untuk pelayaran pada Jumat (17/4).
Namun, kesepakatan tersebut urung terwujud setelah Trump menegaskan bahwa blokade AS akan tetap berlaku penuh hingga Teheran bersedia merumuskan kesepakatan baru dengan Washington, yang turut mencakup pengaturan program nuklir Iran.


















