Hukum

Anak Menteri Purbaya Tuding TPL sebagai Biang Keladi Penggundulan Hutan!

KETIKKABAR.com – Polemik mengenai pengelolaan hutan di Sumatera Utara kembali mencuat setelah unggahan Instagram Story anak Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, viral di media sosial.

Dalam unggahannya, ia menuding PT Toba Pulp Lestari (TPL) sebagai pihak yang bertanggung jawab atas penggundulan hutan, yang diduga memperburuk banjir besar yang melanda Sumatera Utara dan Aceh beberapa waktu lalu.

Unggahan tersebut langsung menyebar luas di media sosial dan memicu perbincangan publik mengenai rekam jejak Toba Pulp Lestari, perusahaan yang bergerak di industri pulp dan kertas.

Nama Toba Pulp Lestari bukanlah nama baru dalam diskursus publik, perusahaan ini memiliki sejarah panjang yang seringkali bersinggungan dengan isu lingkungan, konflik sosial, dan dinamika kepemilikan yang berubah-ubah.

Didirikan pada 1983 dengan nama PT Inti Indorayon Utama, perusahaan ini pertama kali didirikan oleh pengusaha Sukanto Tanoto dan segera menjadi salah satu pemain besar di industri pulp Indonesia.

Namun, sejak akhir 1990-an, gerakan masyarakat sipil dan penolakan dari warga sekitar kawasan operasionalnya mulai mencuat. Hal ini terkait dengan isu dampak lingkungan, seperti pencemaran dan penggundulan hutan.

BACA JUGA:
Diduga Tawarkan Haji Ilegal, Tiga WNI Ditangkap Aparat Keamanan di Mekkah

Pada 2000–2001, Indorayon berganti nama menjadi PT Toba Pulp Lestari (TPL), seiring dengan pengalihan kepemilikan.

Nama baru ini sempat dipandang sebagai upaya perusahaan untuk meredam citra negatif akibat konflik lingkungan yang terjadi pada masa lalu. Sejak saat itu, struktur kepemilikan TPL terus mengalami perubahan.

Pinnacle Company Pte. Ltd., sebuah perusahaan berbasis di luar negeri, sempat menjadi pemegang saham mayoritas hingga 2021.

Namun, laporan terakhir menunjukkan bahwa 92,54 persen saham TPL kini dikuasai oleh Allied Hill Limited, sebuah entitas yang berbasis di Hong Kong. Joseph Oetomo tercatat sebagai pemilik ultimate beneficial owner dari saham tersebut.

Pergantian kendali saham ini kembali memicu keingintahuan publik mengenai arah dan transparansi bisnis TPL, khususnya terkait dengan kelestarian hutan di kawasan Danau Toba yang menjadi perhatian nasional.

Meskipun demikian, TPL berulang kali membantah tudingan yang mengaitkan perusahaan ini dengan kelompok bisnis Royal Golden Eagle (RGE Group) atau dengan Menteri Koordinator Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan.

Kedua nama tersebut sering disebut-sebut dalam spekulasi mengenai pengaruh dan jaringan bisnis yang berada di balik perusahaan-perusahaan besar pengelola sumber daya alam.

BACA JUGA:
Tragedi Maut Stasiun Bekasi Timur: Sopir Taksi Ditahan

Melalui berbagai pernyataan sebelumnya, TPL menegaskan bahwa perusahaan beroperasi secara independen dan tidak memiliki hubungan struktural atau finansial dengan pihak-pihak tersebut.

Meski demikian, viralnya unggahan terbaru dari keluarga pejabat negara itu membuat perhatian publik kembali tertuju pada dampak kegiatan industri pulp terhadap degradasi hutan.

Dugaan bahwa deforestasi memperparah banjir di Sumatera Utara dan Aceh semakin memperkuat tuntutan masyarakat agar pemerintah memperketat pengawasan, menegakkan regulasi lingkungan, dan memastikan keberlanjutan pengelolaan hutan.

Hingga kini, diskusi mengenai peran perusahaan kehutanan, termasuk TPL, terus berlanjut, terutama mengingat kawasan ekosistem Danau Toba merupakan salah satu prioritas dalam pembangunan dan konservasi nasional.

Di tengah krisis iklim global, tuntutan terhadap transparansi dan akuntabilitas pengelolaan sumber daya alam semakin tak terhindarkan.

Viralnya satu unggahan kini kembali menyeret sejarah panjang Toba Pulp Lestari ke dalam sorotan tajam masyarakat, memicu diskusi yang lebih luas mengenai dampak industri terhadap lingkungan dan masa depan pengelolaan hutan di Indonesia. []

Toba Pulp Lestari Dikaitkan dengan Luhut Binsar Pandjaitan, Ini Penjelasan Mereka

Source: wartakota

TERKAIT LAINNYA