BisnisEkonomi

Kisah 15 Perempuan Aceh Menyulap Daun Lokal Menjadi Ecoprint Bernilai Ratusan Juta

KETIKKABAR.com – Di balik keindahan motif alami yang tercipta dari teknik ecoprint, tersemat kisah inspiratif kebangkitan ekonomi 15 perempuan tangguh di Aceh, khususnya di Pulau Weh, Sabang.

Mereka berhasil menyulap dedaunan yang awalnya tak bernilai menjadi karya seni tekstil ramah lingkungan yang kini menjadi ikon oleh-oleh khas daerah tersebut.

Proses Pembuatan EcoprintFoto KETIKKABARcom
Proses Pembuatan EcoprintFoto KETIKKABARcom

Kekuatan Lokal dan Proses Panjang yang Menghasilkan Omzet Fantastis

Kisah ini berawal dari semangat untuk tetap produktif di masa pandemi. Sekelompok perempuan yang tergabung dalam Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Sabang, dipimpin oleh Erna Vivilinda, mulai menekuni seni cetak daun alami di atas kain sejak tahun 2021.

“Semua berawal dari keinginan kami untuk tetap produktif di masa pandemi. Saat itu, banyak kegiatan berhenti, tapi kami ingin terus berkarya dari rumah,” kenang Erna Vivilinda.

Keunikan utama dari produk ini adalah komitmen mereka pada kearifan lokal. Seluruh bahan baku berupa dedaunan didapatkan dari wilayah Sabang sendiri, memastikan keaslian flora Pulau Weh tercetak pada setiap helai kain.

Bahkan, sebagai bentuk kemandirian dan keberlanjutan pasokan, sebagian pekerja menanam tanaman penghasil pigmen dihalaman rumah sendiri.

Proses pembuatan ecoprint ini menuntut ketelitian dan kesabaran tinggi:

  1. Kain dicuci dan di-mordanting (perendaman larutan tawas).
  2. Daun disusun dengan artistik di atas kain.
  3. Kain digulung dan diikat erat, lalu dimasukkan ke dalam kukusan.
  4. Proses pengukusan memakan waktu hingga 2 jam.
  5. Setelah dikukus, kain tidak langsung dibuka, melainkan didiamkan selama 3 hari (proses fiksasi) untuk memastikan transfer warna alami dari daun terserap maksimal dan tahan lama.
BACA JUGA:
TNI dan Warga Percepat Pembangunan Jembatan Gantung Perintis di Aceh Tenggara

Standar Kualitas Tinggi dengan Bahan Serat Alami Pilihan

Meski dijual dengan harga standar yang terjangkau, Ecoprint Sabang tetap menjamin kualitas bahan yang terbaik. Para pengrajin sangat selektif, sebab tidak semua kain bisa digunakan untuk ecoprint.

“Bahan yang kami gunakan adalah yang berserat alami, baik tumbuhan maupun hewan,” jelas Erna.

Kain-kain berserat alami seperti katun, linen, dan sutra dipilih karena memiliki kemampuan daya serap warna alami dari dedaunan secara optimal, menghasilkan motif yang tajam, detail, dan tahan lama.

Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Sabang kini telah menghasilkan berbagai produk Ecoprint seperti tas, pakaian, syal, hingga gorden

Dampak Ekonomi yang Nyata dan Dukungan Infrastruktur Modern

Keuletan dan proses panjang yang mereka jalani kini membuahkan hasil yang signifikan. Dampak ekonomi mulai terasa nyata.

BACA JUGA:
BI Aceh Gelar Road to Fesyar 2026, Perkuat Ekosistem Halal Lewat Transformasi Digital

Setiap tahunnya, Ecoprint Sabang mampu mencatat omzet hingga Rp100 juta, dengan permintaan datang bukan hanya dari wisatawan lokal, tetapi juga pengunjung mancanegara, terutama dari Malaysia.

Keberhasilan Ecoprint Sabang tidak lepas dari dukungan penuh Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh yang memberikan bantuan peralatan produksi modern. Melalui dukungan itu, para pengrajin kini memiliki kukusan besar berkapasitas 25 kain, kompor industri, dan peralatan pewarnaan yang mempercepat proses produksi. Dukungan ini memastikan konsistensi kualitas dan peningkatan kapasitas produksi.

Kisah 15 perempuan Sabang ini menjadi inspirasi bahwa dengan semangat pantang menyerah, kearifan lokal yang kuat, dan dukungan yang tepat, UMKM yang digerakkan oleh perempuan tangguh mampu menjadi motor penggerak ekonomi daerah dan menarik perhatian pasar global dengan keunikan warisan alam Indonesia. []

Kisah Cokbang: Dari “Alat Seadanya” Jadi Primadona Baru Sabang

TERKAIT LAINNYA