Internasional

Gencatan Senjata, Netanyahu: Israel Tentukan Sendiri Kapan Serang Gaza

KETIKKABAR.com – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan sikap tegas negaranya di tengah berlangsungnya gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat (AS).

Netanyahu menyatakan bahwa Israel akan menentukan sendiri kapan harus menyerang musuh dan negara mana yang dapat bergabung dalam pasukan keamanan internasional di Gaza.

Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu pada Minggu (26/10/2025), bersamaan dengan tibanya kru penyelamat Mesir di Jalur Gaza untuk membantu pencarian jenazah sandera Israel yang hilang.

“Israel adalah negara merdeka. Kami akan mempertahankan diri dengan cara kami sendiri dan menentukan nasib kami. Kami tidak meminta persetujuan siapa pun. Kami mengendalikan keamanan kami,” tegas Netanyahu dalam rapat kabinet di Yerusalem.

Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata, pasukan internasional yang mayoritas berasal dari negara-negara Arab dan Muslim direncanakan mengamankan Gaza setelah Israel menarik pasukannya.

Namun, Netanyahu, yang mendapat tekanan dari kelompok garis keras koalisinya, secara spesifik menolak kemungkinan keterlibatan Turki dalam pasukan tersebut.

“Kami menegaskan bahwa Israel akan menentukan pasukan internasional mana yang tidak dapat kami terima,” ujarnya.

BACA JUGA:
AS Kerahkan 15.000 Tentara dan Ratusan Pesawat ke Selat Hormuz dalam Operasi "Project Freedom"

Netanyahu mencontohkan serangan udara besar pada 19 Oktober—yang menargetkan Gaza dengan 150 ton bom dan rudal menyusul tewasnya dua tentara Israel serta serangan terbaru pada Sabtu terhadap anggota kelompok Jihad Islam, sebagai bukti bahwa Israel akan tetap bertindak demi keamanannya sendiri.

Sementara Israel masih menguasai lebih dari separuh wilayah Gaza dan mengatur lalu lintas konvoi bantuan PBB (setelah menarik sebagian pasukannya ke “Garis Kuning”), lembaga kemanusiaan melaporkan bahwa bantuan ke Gaza masih sangat terbatas, menyebabkan banyak warga mengalami kelaparan.

Seorang warga Gaza, Hiam Muqdad (62), menceritakan kepada AFP bagaimana keluarganya kini hidup di tenda di antara reruntuhan rumah di Kota Gaza.

“Ketika mereka bilang ada gencatan senjata, air mata bahagia dan sedih bercampur. Anak-anak dulu bermain di taman, sekarang hanya bisa bermain di reruntuhan,” kata Muqdad.

BACA JUGA:
AS dan Iran Dijadwalkan Kembali Gelar Perundingan Damai di Islamabad Pekan Depan

Di sisi lain, AS bersama sekutunya telah mendirikan Pusat Koordinasi Sipil-Militer (CMCC) di Israel selatan untuk memantau pelaksanaan gencatan senjata.

Meski serangan Israel kembali terjadi, diplomat AS Marco Rubio menyatakan optimismenya bahwa gencatan senjata dapat bertahan, dengan syarat Hamas bersedia melucuti senjata dan menyerahkan kekuasaan atas Gaza.

“Saya pikir, pada akhirnya, pasukan stabilisasi akan memperluas garis itu hingga mencakup seluruh Gaza, yang berarti wilayah itu akan didemiliterisasi sepenuhnya,” kata Rubio.

Saat ini, faksi-faksi utama Palestina, termasuk Hamas, telah sepakat membentuk komite teknokrat untuk mengelola Gaza di tengah proses rekonstruksi. Namun, Hamas tetap menolak tuntutan agar segera melucuti senjatanya. []

Alex Marquez Kunci Kemenangan Ketiga di MotoGP Malaysia 2025, Bagnaia Gagal Finis

TERKAIT LAINNYA