Hukum

Tangis Ibu Misri Puspita: “Jangan Jadikan Anak Saya Tumbal”

KETIKKABAR.com  – Di tengah gemuruh media yang terus menyorot kasus kematian tragis Brigadir Nurhadi di Gili Trawangan, nama Misri Puspita Sari ikut terseret sebagai salah satu dari tiga tersangka. Namun, di balik status hukumnya, ada sisi lain dari Misri yang luput dari sorotan: seorang anak sulung yang bertahun-tahun menjadi tulang punggung keluarga.

Bagi ibunya, Lita Krisna, Misri bukanlah sekadar nama dalam dakwaan. Ia adalah anak sulung yang sejak kecil sudah terbiasa mengalah, mengurus, dan menanggung beban keluarga.

“Misri dari kecil sudah mandiri. Dia pernah jadi Duta OJK, wakili Jambi dalam ajang kepemimpinan pelajar nasional. Tapi dia pilih kerja, banting tulang demi keluarga, apalagi setelah ayahnya meninggal,” tutur Lita kepada Tribun Jambi, dengan suara yang bergetar menahan air mata.

Misri adalah anak pertama dari enam bersaudara. Ketika teman-temannya sibuk mengejar mimpi dan beasiswa, ia memilih menunda mimpinya sendiri demi memastikan adik-adiknya bisa terus sekolah.

“Dia pernah ditawari beasiswa, tapi dia bilang lebih baik adik-adiknya sekolah tinggi. Dia rela kerja pagi sampai malam, asal kami bisa makan dan adik-adiknya bisa kuliah,” kata sang ibu.

BACA JUGA:
Bareskrim Polri Bongkar Pencucian Uang Jaringan Narkoba 'The Doctor', Perputaran Dana Tembus Rp124 Miliar

Setelah merantau ke Jakarta dan kemudian menerima pekerjaan di Lombok, Misri tetap menjaga komunikasi. Ia rajin menelepon sang ibu tiap hari. Ketika ditawari pekerjaan baru di Gili Trawangan, ia bahkan minta restu ibunya lebih dulu.

“Katanya, gajinya bisa bantu biaya kuliah adiknya dan sekolah TK adik bungsunya. Saya izinkan, karena dia juga semangat,” kenang Lita.

Semua berubah saat sebuah surat dari kepolisian tiba di rumah keluarga Misri. Yang mengejutkan: surat itu dikirim lewat jasa ekspedisi, bukan langsung oleh petugas.

“Surat itu bahkan diterima tante Misri. Saya bingung, ini kasus besar, kenapa prosedurnya seperti ini?” ucap Lita heran.

Baca juga: Kematian Diplomat Muda Masih Misterius, CCTV Ungkap Gerak-Gerik Mencurigakan Penjaga Kos

Tak lama kemudian, Misri menelepon dalam tangis. Ia menyampaikan kabar bahwa dirinya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus kematian Brigadir Nurhadi.

“Dia bilang cuma nolong korban, tapi malah dituduh ikut menganiaya. Saya bilang: kalau memang tidak bersalah, hadapi dengan kepala tegak. Tapi sejak HP-nya disita, saya hanya bisa komunikasi lewat pengacara,” katanya lirih.

Yang membuat Lita makin resah adalah ketimpangan eksposur media. Ia melihat hanya foto Misri dan Kompol Yogi yang beredar luas, sementara tersangka lain, Ipda Haris, nyaris tak disorot.

BACA JUGA:
KPK Ungkap Modus TPPU: Uang Korupsi Mengalir ke Rekening Keluarga hingga Wanita Simpanan

“Kenapa hanya anak saya yang dipajang? Padahal Ipda Haris juga tersangka. Jangan jadikan anak saya tumbal!” tegasnya.

Lita juga ragu Misri bisa melakukan kekerasan seperti yang dijelaskan dalam hasil otopsi jasad Nurhadi.

“Saya lihat di berita katanya patah leher, lidah, dan memar di seluruh tubuh. Badan Misri kecil, bagaimana mungkin dia bisa melakukan itu sendirian?” tanyanya.

Lita berharap pemerintah daerah, khususnya dari Provinsi Jambi, tidak tinggal diam. Ia mengingatkan bahwa Misri dulu pernah mengharumkan nama daerah lewat berbagai prestasi.

“Saya ingin sekali menjenguk Misri ke Lombok. Tapi tidak punya biaya. Saya hanya bisa berdoa dan berharap bantuan dari siapa pun,” katanya pelan.

Kini, Lita tak lagi menuntut keistimewaan. Ia hanya ingin proses hukum berjalan setara untuk semua pihak, dan tidak menjadikan anaknya sebagai pelampiasan tunggal.

“Tolong usut secara adil. Jangan hanya anak saya yang dijadikan kambing hitam. Semua tersangka harus diperlakukan setara,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. []

TERKAIT LAINNYA