KETIKKABAR.com – Tragedi memilukan kembali terjadi di Jalur Gaza. Sedikitnya 112 warga sipil Palestina tewas dan lebih dari 760 orang terluka saat berkerumun menunggu bantuan makanan di Gaza utara, Kamis (29/2).
Insiden ini terjadi setelah militer Israel melepaskan tembakan ke arah warga yang disebutnya sebagai “ancaman”.
Menurut laporan detikNews, militer Israel mengakui pasukannya menembaki beberapa orang dalam insiden tersebut. Namun, saksi mata mengatakan tidak ada tembakan peringatan sebelum pasukan melepaskan peluru secara langsung ke arah kerumunan.
Kejadian memilukan ini terjadi di dekat pos pemeriksaan militer Israel di Jalan Rashid, Kota Gaza, sekitar pukul 04.00 waktu setempat.
Ratusan warga, yang telah bermalam menunggu bantuan dari iring-iringan 18 hingga 30 truk, mendekati konvoi saat truk terakhir berjarak sekitar 70 meter dari pos militer.
Saat itulah tembakan dilepaskan, memicu kepanikan. Sejumlah warga tewas tidak hanya akibat peluru, tetapi juga karena tertabrak truk-truk bantuan yang berusaha kabur dari lokasi.
“Mereka Tembak Langsung ke Kepala”
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, puluhan korban dalam kondisi kritis dilarikan ke Rumah Sakit al-Shifa. Namun rumah sakit kewalahan menangani korban akibat minimnya fasilitas.
Direktur RS Kamal Adwan di Beit Lahia, Hussam Abu Safieyah, mengatakan telah menerima 10 jenazah dan puluhan korban luka. Di RS al-Awda, lebih dari 160 pasien luka dirawat, mayoritas tertembak.
Seorang warga bernama Tamer Shinbari, yang menyaksikan insiden secara langsung, mengatakan ia datang ke Bundaran Nabulsi hanya untuk mendapatkan sekantong tepung. “Tapi yang kami dapatkan adalah peluru dan kematian,” ujarnya sambil menggendong jenazah temannya.
Baca Juga: India Akui Alami Kekalahan Udara dari Pakistan
Militer Israel mengklaim pasukannya melepaskan “tembakan terbatas” untuk membubarkan massa yang dianggap mengancam. Namun Hamas membantah keras dan menyebut tembakan dilakukan secara langsung, bahkan menyasar kepala warga, menunjukkan niat membunuh.
Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyebut insiden ini sebagai bagian dari “perang genosida” oleh Israel terhadap rakyat Palestina.
Sementara itu, PBB dan Pemerintah Prancis mengecam keras tindakan militer Israel. Sekjen PBB Antonio Guterres menyebut penembakan terhadap warga sipil kelaparan sebagai tindakan yang tidak dapat dibenarkan, dan mendesak gencatan senjata segera serta akses kemanusiaan tanpa hambatan.
Gaza Utara: Bencana Kemanusiaan yang Terabaikan
Wilayah utara Gaza telah porak-poranda akibat serangan darat Israel sebelumnya. Bantuan kemanusiaan hampir mustahil masuk dalam beberapa pekan terakhir.
Program Pangan Dunia (WFP) bahkan sempat menghentikan pengiriman karena konvoi mereka diserbu massa kelaparan dan ditembaki.
Situasi kian memburuk karena runtuhnya ketertiban sipil, membuat distribusi bantuan menjadi nyaris mustahil. Kini, warga Gaza tak hanya menghadapi kelaparan ekstrem, tapi juga risiko kematian saat mencoba bertahan hidup.[]


















