KETIKKABAR.com – Polemik ijazah Jokowi kembali memanas. Setelah Roy Suryo lantang mempertanyakan keaslian dokumen akademik sang presiden.
Kini giliran Ali Mochtar Ngabalin, mantan Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden, yang angkat bicara dan pernyataannya bukan main panas!
Ngabalin mengaku tak habis pikir dengan sikap Roy Suryo dan kelompoknya yang terus menuduh Jokowi menggunakan ijazah palsu.
Ia menilai tuduhan tersebut bukan hanya tidak masuk akal, tapi juga memalukan, mengingat rekam jejak politik Jokowi yang panjang dan terbukti.
“Jokowi itu Wali Kota dua periode, Gubernur, Presiden dua periode. Bagaimana bisa ada yang bilang ijazahnya palsu? Orang itu harus beretika lah dalam hal cari makan,” tegas Ngabalin, dikutip dari kanal YouTube Sindonews.
“Proyek Tanpa Tender, Uang Gede”
Tak berhenti di situ, Ngabalin bahkan menyebut ada “proyek besar tanpa tender” di balik narasi ijazah palsu ini.
Menurutnya, proyek ini telah berjalan bertahun-tahun dan melibatkan uang dalam jumlah besar.
“Saya sudah tulis, proyek ijazah palsu itu proyek uang besar. Masa gak habis-habis? Indonesia kalau urusan begitu sangat profesional,” sindirnya tajam.
Ia bahkan menyebut ada beberapa tokoh pelapor yang pernah datang padanya, curhat soal Jokowi — yang kini justru menyerangnya.
“Saya tahu siapa-siapa yang berteriak. Pernah datang ke saya, bilang ‘kenapa Jokowi beginikan saya Li’. Jadi saya paham semuanya,” ujar Ngabalin penuh nada misterius.
Ngabalin: Ada Misi Hadang Gibran?
Lebih lanjut, Ngabalin menilai narasi ijazah palsu Jokowi punya tujuan terselubung: menghadang Gibran Rakabuming Raka, putra Jokowi, yang kini menjabat Wakil Presiden.
“Setelah Jokowi berhenti, anaknya jadi Wakil Presiden. Jadi tidak ada tujuan lain kecuali bagaimana mengadang Gibran untuk masa depan. Prabowo-Gibran baru 6-7 bulan kok sudah mulai diganggu, lucu ini,” ujarnya.
Ngabalin bahkan menyebut laporan Jokowi ke Polda Metro Jaya sebagai bentuk kekecewaan yang mendalam.
“Kok bisa-bisanya seorang Presiden harus bawa ijazah ke Polda? Ini pasti melukai relung hatinya. Kita tunggu aja, kalau masuk Salemba atau Sukamiskin, kita jenguk,” katanya menyindir Roy Cs.
Roy Suryo Tak Gentar: “Final Itu Pengadilan”
Di sisi lain, Roy Suryo tetap bergeming. Ia menyatakan tidak memiliki motif politik dan menegaskan bahwa langkahnya adalah bentuk daya kritis publik.
“Ini soal ilmu pengetahuan. Hasil Puslabfor itu hanya sepotong cercah alat bukti. Final itu di pengadilan, bukan di press release,” katanya.
Roy bahkan menyindir pernyataan Bareskrim yang menyebut ijazah Jokowi “identik” sebagai tidak cukup valid.
“Kalau diproduksi dulu yang sama, ya pasti identik. Itu belum otentik. Mana barangnya? Tidak ditunjukkan,” tantangnya.[]


















