Nasional

Dulu Dituduh Radikal, Kini Duduk di Depan Istana

KETIKKABAR.com – Di dalam pusaran politik yang berubah cepat, nama bisa dilabel, dan label bisa luntur.

Dua sosok yang dulu kerap disematkan cap “radikal”, Ustad Adi Hidayat (UAH) dan Ustad Abdul Somad (UAS), kini seolah mendapat tempat terhormat dalam orbit kekuasaan nasional.

Ustad Adi Hidayat tak hanya hadir. Ia berceramah. Di depan Presiden Prabowo Subianto, Kabinet Indonesia Maju, dan tamu negara dalam acara Buka Puasa Bersama di Istana Negara, 21 Maret 2025.

Ceramahnya tenang, filosofis, tanpa jejak amarah. Jauh dari citra “radikal” yang dulu ramai dilabelkan.

Tak hanya sampai di situ. Dalam acara Gerakan Indonesia Menanam (Gerina) di Banyuasin, Sumatera Selatan, gerakan yang digagas langsung oleh UAH, Presiden Prabowo kembali hadir. Dan berdiri di sampingnya, bukan jenderal, tapi sang ustad.

BACA JUGA:
Komisi III DPR Tinjau Implementasi KUHP-KUHAP Baru di Polda Aceh

Ucapan dari Jenderal untuk Sang Dai

Sementara itu di tempat berbeda, Ustad Abdul Somad (UAS) mendapat ucapan ulang tahun dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Disampaikan langsung melalui video oleh Kapolda Riau, Irjen Herry Heryawan, dan disaksikan bersama Kapolda Papua Barat, Irjen Johnny Eddizon Isir.

“Selamat ulang tahun Tuan Guru Ustaz Abdul Somad, semoga diberikan barokah, panjang umur, dan selalu berada dalam lindungan Allah,” ujar Kapolri dalam video.

Balasan UAS? Bukan dengan dalil, melainkan pantun khas Melayu:

“Memang harum bunga rampai, dicium orang yang lalu. Ucapan Pak Kapolri sudah sampai, semoga sukses selalu.”

Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Netizen mulai merangkai makna. Di media sosial, khususnya di platform X, akun bernama @BosPurwa menulis:

BACA JUGA:
Kapolri Ajak Buruh dan Pengusaha Perkuat Sinergi demi Jaga Iklim Investasi

“Roda dunia berputar. Siapa sangka, Ustad Adi Hidayat dan Ustad Abdul Somad yang dulu diframing radikal, sekarang dapat panggung.”

Ia menambahkan sindiran halus:

“Dan biasa aja kan, gak ada radikal-radikalnya. Malah yang suka nuduh gak berani nongol ke publik gegara kuota haji.”

Postingan itu langsung meledak—ratusan repost, puluhan komentar, dan gelombang wacana baru yang kini mempercakapkan apa itu “radikal” dan siapa yang berhak menilai.

TERKAIT LAINNYA