KETIKKABAR.com – Keberadaan buzzer di jagat media sosial Indonesia telah menjadi fenomena tersendiri dikenal sebagai pendengung opini yang bisa membentuk persepsi publik, baik dalam ranah politik, komersial, hingga sosial.
Mereka bekerja lewat kampanye terstruktur: dari hashtag viral hingga akun-akun anonim yang ramai berkomentar.
Namun di balik strategi itu, buzzer menuai kontroversi. Penggunaan akun palsu atau sockpuppet demi menciptakan kesan dukungan massal dianggap merusak etika digital.
Studi Digital Democracy in Indonesia menyebut praktik ini sebagai bagian dari komunikasi politik modern. Namun sebagian lainnya menilai, buzzer bukan hanya akun anonim.
Banyak dari mereka adalah influencer dengan pengikut besar yang menyebarkan pesan sponsor secara lebih halus.
Di tengah perdebatan itu, muncul istilah baru yang memantik polemik: Termul, akronim dari Ternakan Si Mul. Istilah ini dilemparkan oleh pegiat media sosial dan dokter lulusan UGM, Tifauzia Tyassuma alias Dr Tifa.
Ia menulis dalam unggahan 18 Mei lalu bahwa Termul adalah bentuk hina baru dari buzzer, bukan hanya pendengung, tapi ternakan dari sosok yang ia sebut “pembohong, perampok, dan pengecut.”
Dr Tifa sendiri kerap jadi sasaran serangan digital sejak menggugat keaslian ijazah Presiden Joko Widodo. Kolom komentar di akun X (dulu Twitter)-nya dipenuhi debat panas. Istilah Termul pun menuai pro-kontra.
Di tengah perang wacana ini, satu hal jadi terang: dunia digital Indonesia kian riuh, tapi juga makin gelap batas antara ekspresi, propaganda, dan rekayasa. Dan buzzer, dengan segala wajahnya, berada di jantung pusaran itu.[]


















