Nasional

Musda Aklamasi: Ketika Golkar Jatim Bertaruh pada Stabilitas

KETIKKABAR.com – Di ruang megah Hotel Shangri-La Surabaya, Musyawarah Daerah XI Partai Golkar Jawa Timur resmi digelar pada Sabtu malam (10/5/2025).

Tanpa riuh kompetisi politik internal, forum ini berlangsung nyaris tanpa gesekan: Ali Mufthi muncul sebagai satu-satunya calon Ketua DPD Partai Golkar Jatim, membuka jalan lebar menuju aklamasi.

Di tengah isu nasional yang makin bising, Partai Golkar memilih jalan sunyi: meneguhkan stabilitas internal. Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia, yang hadir langsung membuka forum, menegaskan bahwa demokrasi partai tetap berjalan, meskipun hanya satu nama mengapung.

“Forum mau berapa calon? Biarkanlah demokrasi ini terjadi,” ujar Bahlil dalam konferensi pers usai pembukaan musda.

Bahlil—yang baru saja menakhodai Golkar pasca-transisi pasca-Pemilu 2024—menolak anggapan adanya intervensi dari pusat. Menurutnya, mekanisme musda sepenuhnya dibiarkan tumbuh dari bawah, sesuai konstitusi partai.

Arah Tunggal, Konsolidasi Penuh

Ketua SC Musda XI Heri Sugihono mengonfirmasi bahwa pendaftaran calon telah ditutup sejak Jumat malam (9/5) dan hanya Ali Mufthi, anggota DPR RI dari Dapil Jatim VII, yang mengajukan diri.

BACA JUGA:
Capaian Kinerja Polri 2025 Tembus 91,54 Persen, Reformasi Internal Dinilai Berhasil

“Peluang aklamasi sangat besar. Kami perkirakan seluruh pemilik suara akan menyepakati Ali Mufthi sebagai ketua,” ujar Heri.

Langkah aklamasi ini yang kerap dikritik sebagai antiklimaks dalam pesta demokrasi internal, justru dibaca oleh sebagian kader sebagai sinyal konsolidasi.

Setelah mengalami turbulensi elektoral dalam beberapa tahun terakhir, Golkar Jatim memilih tak lagi bermain api dalam arena perebutan kursi ketua.

Dari Surabaya Menuju Jakarta

Ali Mufthi bukan wajah baru. Ia dikenal sebagai figur dengan akar kuat di dapilnya dan punya komunikasi lancar dengan elite DPP. Di balik aklamasi, ada benang merah panjang antara basis daerah dan arahan pusat: stabilitas menjelang pemilihan kepala daerah serentak 2025 adalah harga mati.

Bahlil, sebagai ketua umum baru, juga sedang membangun legitimasi. Dukungan aklamasi di daerah besar seperti Jawa Timur bisa dibaca sebagai uji coba kekuatan struktur partai di bawah komando barunya. Ia menegaskan bahwa “DPP tidak akan campur tangan soal siapa ketua, selama semua sesuai AD/ART.”

BACA JUGA:
Tim Gabungan Satgas Damai Cartenz Temukan Ratusan Batang Ganja di Pegunungan Bintang

Politik Tanpa Drama?

Ketika partai-partai lain berlomba memainkan drama suksesi internal, Musda Golkar Jatim berjalan tenang. Namun tenang bukan berarti lesu. Sebab dari forum seperti inilah, kekuatan partai kuning ini dibentuk: sunyi yang terorganisasi, tanpa kegaduhan, tapi bergerak sistematis.

Musda XI kali ini mungkin akan menetapkan Ali Mufthi secara aklamasi, tapi pertarungan sebenarnya ada setelah ini: bagaimana Partai Golkar, yang pernah menjadi mesin politik terbesar di republik ini, menaklukkan panggung Pilkada 2025 dan mengonsolidasikan kemenangan ke 2029.

Di antara tepuk tangan hangat dan musik mars Golkar yang menggema di ballroom Surabaya, satu hal menjadi jelas: stabilitas masih menjadi mata uang utama dalam politik partai hari ini.[]

TERKAIT LAINNYA