KETIKKABAR.com – Israel kembali melancarkan serangan militer ke Gaza pada hari Minggu (3/3/2025), meskipun telah sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata fase pertama dengan Hamas.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa serangan tersebut menewaskan empat orang dan melukai enam lainnya. Hamas menyebut serangan ini sebagai bentuk “kudeta” terhadap gencatan senjata yang telah berlangsung selama enam minggu.
Selain serangan militer, Israel juga menangguhkan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza, sebagaimana dilaporkan oleh AFP.
Perpanjangan gencatan senjata selama satu bulan disepakati pada Minggu pagi, yang mencakup bulan suci Ramadan bagi umat Islam dan hari raya Paskah bagi umat Yahudi.
Namun, Hamas menolak perpanjangan tersebut dan lebih memilih transisi menuju fase kedua gencatan senjata, yang menurut mereka akan mengakhiri perang secara permanen yang dimulai pada 7 Oktober 2023.
Fase pertama gencatan senjata telah memungkinkan peningkatan bantuan ke Gaza, yang telah dihancurkan oleh perang. Namun, keputusan Israel untuk menangguhkan bantuan dan melanjutkan serangan menambah ketegangan yang sudah ada.
PBB mencatat bahwa perang ini telah membuat sebagian besar penduduk Gaza mengungsi, dengan kelaparan yang semakin meluas.
Kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa mulai pagi ini, semua barang dan perbekalan yang masuk ke Gaza akan dihentikan. Hal ini menjadi respons Israel terhadap ketegasan Hamas yang menolak perpanjangan gencatan senjata sementara.
Keputusan Israel dan Implikasi Bagi Gaza
Di sebuah jalan berpasir di Kota Gaza, Mays Abu Amer, seorang warga Gaza, menyatakan harapannya agar gencatan senjata dapat dilanjutkan untuk jangka panjang.
“Karena kami mengalami begitu banyak kerusakan, kami membutuhkan banyak waktu untuk rekonstruksi,” katanya.
Namun, Hamas mengkritik keputusan Israel untuk menangguhkan bantuan kemanusiaan dan menyebutnya sebagai bentuk “pemerasan” dan “kejahatan perang.” Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan adanya serangan artileri dan tembakan tank Israel di selatan Gaza, meskipun militer Israel membantah adanya penembakan tersebut.
Bulan Sabit Merah Palestina juga melaporkan korban jiwa akibat serangan pesawat nirawak Israel.
Tanggapan Internasional
Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty, menegaskan bahwa tidak ada alternatif lain selain implementasi penuh dari kesepakatan yang telah ditandatangani pada Januari lalu. Dia juga mendesak Uni Eropa untuk memberi tekanan pada Israel untuk mematuhi kesepakatan gencatan senjata.
Sementara itu, Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, menyambut baik keputusan untuk menangguhkan bantuan kemanusiaan, dan menyebutnya sebagai langkah yang diperlukan untuk memfasilitasi pembebasan sandera yang masih berada di Gaza.
Hamas, melalui juru bicara Hazem Qassem, menyatakan bahwa Israel bertanggung jawab atas konsekuensi keputusan tersebut terhadap rakyat Gaza dan nasib para tahanannya. Kelompok Jihad Islam, sekutu Hamas, juga menuduh Israel “menyabotase” gencatan senjata tersebut.
Perpanjangan gencatan senjata ini masih menyisakan ketidakpastian dan ketegangan, sementara nasib lebih dari 250 tawanan yang ditawan Hamas sejak serangan 7 Oktober 2023 menjadi perhatian utama dalam proses negosiasi.[]


















