Internasional

Data Sensitif Pegawai FBI Dihack Kelompok Peretas ShinyHunters, Informasi Intelijen dan Penugasan Rahasia Bocor

KETIKKABAR.com — Kelompok peretas (hacker) bernama ShinyHunters mengklaim telah membobol situs resmi milik Badan Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) dan meretas ribuan data sensitif pegawainya, sebagaimana dilaporkan pada Kamis (24/9/2026).

Peretasan yang menyasar portal rekrutmen FBIjobs.gov ini menyebabkan kebocoran spreadsheet berisi 5.000 baris data personal serta riwayat penugasan rahasia pegawai aktif maupun nonaktif, meliputi identitas intelijen, nomor jaminan sosial, hingga kontak darurat keluarga.

Serangan siber ini langsung memicu penyelidikan mendalam oleh otoritas keamanan Amerika Serikat. Pihak FBI mengonfirmasi telah mengetahui klaim peretasan portal rekrutmen tersebut, namun menyatakan masih menyelidiki penyebab pasti serta validitas total kebocoran data yang diklaim mencapai 2 hingga 3 terabita oleh kelompok peretas tersebut.

Rincian Data Pegawai yang Bocor dan Penugasan Sensitif Kontra-Spionase

Berdasarkan data yang diretas oleh ShinyHunters, dokumen spreadsheet berisi 5.000 baris tersebut memuat data pribadi yang sangat sensitif, seperti nama lengkap, alamat, nomor telepon, tanggal lahir, nomor jaminan sosial, serta informasi kontak darurat terkait ribuan pegawai FBI.

Lebih lanjut, data tersebut memuat penempatan pegawai di kantor-kantor tertentu, termasuk unit kerja yang menangani isu keamanan nasional dan kontra-spionase.

Verifikasi independen oleh Reuters yang membandingkan data 22 orang dari spreadsheet tersebut dengan catatan kredit serta basis data intelijen dark web District 4 Labs menunjukkan bahwa informasi identitas tersebut cocok.

Sebagian data mencantumkan unit-unit operasi khusus yang keberadaannya sangat sensitif:

  • Penanganan Isu China: Sebanyak 14 pegawai tercatat menangani isu terkait China, termasuk unit China criminal enterprise unit, China tech transfer analysis unit, dan China intelligence section.
  • Operasi Rusia: Sebanyak sembilan pegawai menangani pekerjaan terkait Rusia, di mana dua di antaranya berada di Russia Operations Section dan sisanya di unit Russia Critical Infra and Tech Threat.
  • Fokus Timur Tengah: Tiga pegawai tercatat bekerja di bidang intelijen yang berfokus pada Iran atau Hezbollah.
  • Operasi Teknis dan Penyadapan: Sebanyak 18 pegawai menangani teknologi penyadapan data telekomunikasi, clandestine technical operations (operasi teknis rahasia), covert access section, serta pengawasan perangkat elektronik.
  • HUMINT (Human Intelligence): Sebanyak 11 pegawai tercatat bekerja di bidang intelijen manusia, beberapa di antaranya berada di bagian program HUMINT.
BACA JUGA:  PBB Panas! Trump Ancam Musnahkan Iran, Pezeshkian Tiba di New York

Motifikasi Serangan ShinyHunters dan Respon Pertentangan FBI

Kelompok ShinyHunters mengancam akan menyandera data-data tersebut sampai FBI mencabut pernyataan resmi yang dikeluarkan pada Mei lalu.

Kala itu, FBI menyatakan bahwa ShinyHunters sering kali mengklaim secara berlebihan mengenai akses mereka terhadap informasi sensitif untuk memeras korban.

ShinyHunters membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa pernyataan FBI itulah yang memicu mereka untuk menargetkan biro tersebut secara langsung.

Sebelum membobol portal FBI, kelompok peretas yang sama juga mengklaim telah mencuri jutaan data dari pengembang gim Rockstar Games serta melancarkan serangan siber terhadap platform pendidikan Canvas yang mengganggu aktivitas sekolah di Amerika Serikat.

Meski mengancam, pihak ShinyHunters mengaku berusaha mencegah data pegawai tersebut tersebar luas untuk sementara waktu.

BACA JUGA:  Jejak Peradaban 1.300 Tahun Silam, Arkeolog Temukan Masjid Kuno Berprasasti Awal Islam di Arab Saudi

“Kalau 5.000 data sampel itu sampai bocor, itu bukan karena kami,” ujar kelompok tersebut.

Ancaman Keamanan Nasional dan Risiko Bagi Agen Lapangan

Kebocoran data yang menghubungkan identitas pribadi dengan unit kerja rahasia ini menuai kekhawatiran besar dari para pakar keamanan dan mantan pejabat intelijen AS.

Data tersebut dinilai dapat dimanfaatkan oleh negara-negara rival untuk melacak serta mengompromikan operasi intelijen Amerika Serikat.

Eric O’Neill selaku mantan petugas kontraintelijen FBI menyebut data yang diduga dicuri oleh ShinyHunters ini dianalogikan sebagai tambang emas bagi badan intelijen asing.

“China akan sangat tertarik untuk mengetahui siapa saja yang bekerja melawannya,” kata O’Neill, dikutip dari Reuters, Kamis (24/9).

“Kalau saya ada dalam daftar itu, saya akan sangat khawatir,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Trevor Hilligoss selaku mantan penyelidik Angkatan Darat AS yang pernah bekerja dengan FBI menyebut informasi yang menghubungkan nama-nama tertentu dengan pekerjaan HUMINT sangat mengkhawatirkan.

“Contoh agen yang identitas penyamarannya terbongkar dan kemudian menjadi korban bisa dengan mudah ditemukan,” katanya.

Hilligoss turut mengungkap kekhawatirannya yang semakin besar karena data tersebut juga mencantumkan kontak darurat yang umumnya merupakan anggota keluarga karyawan FBI.

“Mereka mungkin memiliki pemahaman tentang keamanan operasional yang lebih rendah dibandingkan anggota mereka yang bekerja di bidang sensitif,” tambahnya.[]

TERKAIT LAINNYA