KETIKKABAR.com — Fenomena peningkatan aktivitas vulkanik pada sejumlah gunung api di Indonesia yang terjadi secara berdekatan tidak mengindikasikan bumi sedang berada dalam kondisi krisis secara global.
Professor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Danny Hilman Natawidjaja, menyatakan bahwa rentetan erupsi tersebut untuk sementara ini dapat dijelaskan sebagai sebuah kebetulan statistik dalam siklus alam.
“Bisa saja ada satu kebetulan statistik dari siklus gunung api yang kebetulan sekarang itu beberapa lagi saatnya ada pelepasan energi, pelepasan magma, pelepasan energi, dan lain-lain,” ujar Danny, Senin (7/9/2026).
Meskipun secara teoretis terdapat mekanisme tektonik dan vulkanik yang mampu memicu perubahan sistem bumi secara luas—seperti pergeseran medan magnet—Danny menegaskan bahwa data dan analisis akademis yang ada saat ini belum menunjukkan adanya ancaman krisis global.
“Nah kita juga tahu ada berbagai mekanisme tektonik dan vulkanik, gempa yang besar yang bisa memicu seluruh sistem di dunia, misalnya seperti ada perubahan medan magnet bumi, dan sebagainya lah. Untuk saat ini sejauh pengalaman saya, sejauh dari dunia akademis, data dan analisis, belum ada sih,” jelasnya.
“Belum ada satu data dan analisis yang jelas bahwa sekarang ini kita berada di masa yang global, kritis di segi tektonik dan vulkanik. Belum ada sih. Jadi kita tidak bisa bilang apa-apa kalau ada global wake up sekarang ini,” tambahnya.
Terkait berbagai spekulasi yang berkembang di masyarakat, termasuk dugaan perubahan rotasi kutub bumi serta tanda-tanda perubahan iklim global, Danny menilai hal tersebut belum dapat dibuktikan memiliki keterkaitan langsung dengan peningkatan aktivitas vulkanik saat ini.
“Tapi kalau sejauh ini sih, belum ada yang pasti lah, memang ada spekulasi karena rotasi kutub kutub bumi itu adalah lebih cepat gitu ya. Ada tanda-tanda perubahan di global dan sebagainya, tapi masih spekulasi saja,” terang Danny.
“Pada intinya kejadian banyak erupsi di satu masa itu masih bisa ditengahkan sebagai kebetulan statistika.”
Dalam kesempatan yang sama, Danny turut menyoroti peran perkembangan teknologi modern seperti satelit, sensor, pemodelan, hingga kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI) dalam memantau aktivitas kebumian.
Namun, ia mengingatkan bahwa teknologi canggih tidak serta-merta membuat bencana seperti gempa bumi dapat diprediksi secara instan.
“Ya, pada intinya nggak ada resep yang spontan. Kita kan ingatnya semuanya sempat instan ya, gampang. Ada teknologi ini langsung bisa gampang, nggak bisa,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa pemanfaatan teknologi dan AI harus diimbangi dengan penelitian yang mendalam agar tidak berujung pada analisis yang keliru.
“Jadi semua perkembangan teknologi itu akan membantu kita. AI juga membantu. Tapi untuk menggunakan AI kita juga harus pintar. Kalau tidak pintar, perbantuan malah tersesatkan.”
“Jadi perkembangan teknologi, perkembangan AI, itu sangat membantu. Tapi tetap saja harus didukung oleh pengembangan dari dunia penelitian itu sendiri. Penelitian yang harus lebih komprehensi. Jadi kita juga bisa main instan, tetap harus serius, intensif, dan komprehensif,” imbuhnya.
Selain aspek teknis dan ilmiah, Danny menyoroti masih lemahnya tingkat pendidikan serta kesiapsiagaan bencana di tengah masyarakat.
Menurutnya, kepanikan berlebih yang kerap muncul saat terjadi erupsi atau gempa mencerminkan kurangnya pemahaman publik terhadap risiko kebencanaan.
“Jadi intinya pendidikan dan kesiapsiagaan bencana di Indonesia itu, menurut saya masih sangat kurang ya, karena kalau sudah baik pemahaman dan kesiapsiagaannya, ya diskusi seperti itu sudah tidak perlukan lagi kan,” tutur Danny.
Ia berharap ke depannya masyarakat Indonesia memiliki kesadaran dan mitigasi mandiri yang lebih baik sehingga tidak mudah panik menghadapi peningkatan status gunung api, ancaman tsunami, maupun gempa bumi.
“Jadi seharusnya masyarakat harus tahu harus apa, kalau ada siaga gunung api, atau kalau ada isu ancaman tsunami atau gempa. Nah sekarang ini kan tidak. Tiap ada apa namanya event dari bahaya gunung api atau gempa, selalu saja begitu ada banyak kepanikan yang tidak perlu,” pungkasnya.[]










