Internasional

Gencatan Senjata Runtuh, Presiden Iran Masoud Pezeshkian Deklarasikan Perang Total Lawan AS

KETIKKABAR.com — Kesepakatan damai yang sempat terjalin pada Juni lalu resmi hancur setelah Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, secara terbuka mendeklarasikan bahwa negaranya kini berada dalam kondisi perang skala penuh melawan Amerika Serikat (AS).

Pernyataan keras tersebut dilontarkan pada Senin (20/7/2026), menyusul gelombang serangan udara militer AS yang menghantam sejumlah wilayah strategis di bagian utara dan tengah Iran.

“Kenyataannya adalah hari ini Republik Islam Iran tengah terlibat dalam perang skala penuh,” tegas Pezeshkian seperti dikutip dari The Straits Times, Selasa (21/7/2026).

Runtuhnya gencatan senjata ini langsung memicu guncangan hebat pada pasar global. Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam sebulan terakhir akibat perebutan kendali di Selat Hormuz, jalur distribusi yang menopang seperlima pasokan minyak mentah dunia.

Sebagai respons atas konflik, Teheran memberlakukan blokade penuh di Selat Hormuz, yang kemudian dibalas Washington dengan memblokade pelabuhan-pelabuhan utama Iran.

BACA JUGA:  Geger Penemuan 375 Kg Emas di Rumah Eks Wamen, Diduga Hasil 'Sunat' Dana Negara

Sejak konflik bersenjata meletup pada akhir Februari lalu, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) terus menggencarkan serangan balasan terhadap pangkalan dan aset strategis AS di kawasan Teluk, termasuk target-target yang tersebar di Bahrain, Yordania, hingga Suriah.

Eskalasi konflik dikhawatirkan semakin tak terkendali dengan munculnya ancaman dari kelompok pemberontak Houthi di Yaman.

Sekutu dekat Teheran tersebut mengancam akan melumpuhkan pelabuhan-pelabuhan milik Arab Saudi guna memotong jalur alternatif ekspor minyak Riyadh melalui Pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Potensi serangan Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah dan Teluk Aden ini dikhawatirkan dapat semakin melumpuhkan pasokan energi global.

Situasi di kawasan Timur Tengah kian meruncing setelah militer Arab Saudi dan kelompok Houthi dilaporkan sempat terlibat aksi saling tembak untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, meningkatkan risiko terseretnya seluruh kawasan ke dalam pusaran perang terbuka.[]

TERKAIT LAINNYA