KETIKKABAR.com – Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Lampung, Hendri Setiadi, mengaku terintimidasi usai dirinya ikut meredam kericuhan warga yang memergoki seorang oknum polisi berduaan dengan mahasiswi di rumah kontrakan kawasan Labuan Ratu Raya, Kedaton, Bandarlampung, Kamis (29/5/2025).
Insiden bermula dari kecurigaan warga terhadap aktivitas mencurigakan seorang pria yang belakangan diketahui oknum polisi berinisial Ev, sering bermalam di kontrakan mahasiswi dekat Gita Green Estate. Puncaknya, warga mengajak Hendri mendatangi kontrakan tersebut.
“Sekitar pukul 18.50 WIB, kami mendatangi lokasi. Setelah 10 menit, mahasiswi itu keluar hanya mengenakan daster dengan rambut acak-acakan. Tak lama, menyusul seorang pria dari dalam kamar,” ujar salah seorang warga, Eka.
Warga yang geram akhirnya membawa keduanya ke rumah Ketua RT. Namun, sang oknum polisi bersikukuh menolak. Hendri-lah yang akhirnya meredam kemarahan massa dan menyarankan agar pasangan tersebut ke rumah RT untuk menghindari amukan warga.
Setibanya di rumah RT, pasangan tersebut enggan menghubungi orangtua masing-masing. Sikap berbelit mereka membuat warga semakin marah, terlebih setelah sang mahasiswi menyebut bahwa pria bersamanya adalah seorang anggota kepolisian. Warga pun langsung menyoraki keduanya.
Baca Juga: 6 Polisi Makassar Diduga Sekap & Siksa Warga Takalar, Minta Rp15 Juta untuk “Damai”
Akhirnya, Hendri menyarankan agar pasangan itu menghadirkan orangtua mereka keesokan harinya. Sang oknum polisi yang mengaku Ev dari Angkatan ke-50 menyetujuinya. RT pun meminta agar mereka menunggu kehadiran petugas kamtibmas terlebih dahulu.
Namun situasi memanas tak berhenti sampai di situ.
Sejam setelah kejadian, Hendri kembali ke rumah RT dan mendapati sejumlah pria mencurigakan sudah berkumpul. Ternyata, mereka adalah rekan-rekan seangkatan Ev, yang datang atas perintah danton (komandan pleton) untuk “mendampingi”.
“Seperti hendak mengepung saya. Padahal saya justru yang berusaha meredam emosi warga agar masalah ini tidak meledak,” kata Hendri.
Beruntung, situasi tak berlanjut ke arah lebih buruk. Kemunculan petugas kamtibmas membuat sekelompok rekan Ev mundur.
Hendri menyayangkan tindakan intimidatif tersebut. Ia menilai kehadiran rekan-rekan sesama leting oknum itu justru seperti aksi show force yang tidak semestinya dilakukan oleh aparat penegak hukum.
“Polisi harusnya hadir menjaga kenyamanan warga, bukan malah menunjukkan kekuatan untuk menekan masyarakat sipil. Saya pribadi merasa terintimidasi,” tegasnya.
Kepala Bidang Hukum AMSI Lampung, Hengki Irawan, mendesak Kapolda Lampung Irjen Pol Helmy Santika agar memberi atensi serius terhadap insiden ini.
“Ini bukan hanya soal personal, ini soal marwah korps kepolisian. Kami harap ada proses dan tindakan tegas terhadap oknum yang mencederai citra Polri,” ujar Hengki.




















