KETIKKABAR.com – Nama Budi Arie Setiadi kembali menghiasi pusaran kontroversi, kali ini bukan sebagai Menteri Koperasi dan UKM yang menggagas digitalisasi UMKM, tapi sebagai tersangka bayangan dalam skandal judi online (judol) terbesar yang pernah menyeret nama pejabat sekelas menteri.
Surat dakwaan yang dibacakan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menyebut jelas: 50 persen jatah dari “pengamanan” situs judol mengalir ke Budi Arie.
Tapi, Budi menolak keras.
“Ini lagu lama, kaset rusak. Saya ngakak waktu dengar. Makin enggak masuk akal,” ucap Budi dalam sebuah siniar, Kamis (22/5/2025).
Namun publik tak semudah itu tertawa bersama.
Dakwaan yang Menyebut, Menteri yang Menolak
Dalam dakwaan, nama Budi Arie muncul bukan sebagai pelengkap. Ia disebut secara eksplisit menerima bagian terbesar dari praktik ilegal yang dilakukan sejumlah staf eks Kemenkominfo, termasuk:
-
Zulkarnaen Apriliantony
-
Adhi Kismanto
-
Alwin Jabarti Kiemas
-
Muhjiran alias Agus
Modusnya? “Pemilahan daftar situs blokir.” Artinya, situs judol yang sudah membayar tidak akan diblokir oleh Kemenkominfo.
Dan saat praktik sempat “tiarap” di April 2024, disebutkan Zulkarnaen menemui Budi Arie di rumah dinas dan dapat restu untuk lanjut.
Tapi Budi menampik semua.
“Saya enggak tahu 50 persen itu apa. Enggak pernah minta, enggak pernah ditawari.”
“Kalau saya yang paling serius berantas judol kok malah dibilang gembongnya. Kacau ini framing-nya,” tambahnya.
Politik “Mitra Judol”?
Pernyataan paling panas mungkin bukan bantahannya soal persenan, melainkan saat ia menyindir ketua umum partai.
“Ketua umum partai ngomong judol aja enggak. Kita nyebutnya partai mitra judol,” kata Budi tanpa menyebut nama.
Apakah ini kode keras ke koalisi? Atau balasan untuk lawan politik yang tengah menggoreng isu?
Yang jelas, publik mencium aroma perang terbuka antar faksi kekuasaan, terutama setelah Budi menyebut ini adalah skenario politik yang “akan terungkap sendiri.”
Pertanyaan Terbesarnya: Kalau Bukan, Siapa?
Budi memang belum ditetapkan sebagai tersangka. Tapi narasi di pengadilan, pengakuan terdakwa, dan rekam jejak “kedekatan” membuat namanya tak bisa dihapus dari daftar tanya.
Benarkah dia korban framing politik? Atau hanya sedang menyiapkan “soft landing” sebelum badai benar-benar tiba?
Yang lebih menyesakkan: ribuan situs judol yang lolos dari blokir, puluhan miliar uang kotor yang beredar, dan ribuan keluarga yang hancur karena “pelindung hukum” malah jadi pelindung bandar.[]


















