KETIKKABAR.com, Jakarta — Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Hashim Djojohadikusumo memperingatkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berpotensi terperosok hingga ke level Rp 22.000.
Risiko ini membayang jika persoalan di pasar modal yang disorot lembaga pemeringkat Morgan Stanley Capital International (MSCI) tidak segera diatasi pemerintah dan otoritas terkait.
Hashim mengungkapkan, kegagalan memitigasi sorotan MSCI berisiko mempersempit sumber pendanaan di pasar modal domestik, terutama jika status pasar saham Indonesia diturunkan (downgrade) menjadi stand-alone market.
“Saya diminta oleh Presiden untuk membantu Rosan (CEO Danantara) dan kawan-kawan di pemerintah untuk mitigasi masalah yang kita hadapi dari Morgan Stanley. Masalah yang kita hadapi saudara-saudara, kalau MSCI tidak kita mitigasi, berarti sumber dana untuk pasar modal kita akan nanti semakin kering,” kata Hashim saat berbicara dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026.
Adik dari Presiden Prabowo Subianto ini menjelaskan, penurunan status tersebut berpotensi memicu gelombang capital outflow atau keluarnya dana investor asing secara masif dari bursa saham domestik.
Tekanan tersebut diyakini bakal menggerus stabilitas rupiah sekaligus memperberat beban pembayaran utang luar negeri.
Hashim memperkirakan nilai tukar rupiah bisa melorot ke kisaran Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per dolar AS, bahkan menembus angka Rp 22.000 dalam skenario terburuk.
“Saya sudah hitung bisa jadi Rp 20.000-Rp 21.000 per dolar AS. Ada yang bilang Rp 22.000. Kalau itu terjadi, rupiah bisa Rp 21.000-Rp 22.000, pinjaman luar negeri kita, kita harus bayar lebih mahal, ini jadi, bisa jadi bencana dan malapetaka bagi ekonomi Indonesia,” ujarnya.
Selain ancaman kaburnya modal asing, Hashim secara terbuka menyoroti praktik perdagangan yang dinilainya melanggar etika dan mengganggu kredibilitas pasar modal Indonesia, termasuk maraknya saham gorengan.
“Ada indikasi memang ada praktek-praktek yang tidak sehat yang terjadi di pasar saham kita. Saya gak usah sebut siapa, tapi ada saham-saham yang istilahnya digoreng,” kata Hashim.
Ia juga menyentil keberadaan saham-saham dengan porsi kepemilikan publik (free float) yang terlampau minim, namun memiliki rasio harga terhadap laba bersih (price-to-earnings ratio/PER) yang dinilainya tidak rasional.
Hashim meminta para pengusaha yang tergabung dalam Kadin untuk tidak ikut-ikutan terlibat dalam manipulasi harga saham. Praktik goreng-menggoreng saham ini dinilai merugikan investor ritel dan merusak iklim investasi secara luas.
Merujuk data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hashim mencatat ada sekitar 32,7 juta warga negara Indonesia yang memiliki akun pialang saham (brokerage accounts). Jutaan investor domestik ini ikut menanggung kerugian saat nilai saham anjlok akibat manipulasi pasar.
Sebagai perbandingan, Hashim menyinggung ketegasan pemerintah Turki yang telah menangkap 94 orang terkait kasus manipulasi pasar modal serupa di negaranya. Ia mengingatkan pemerintah Indonesia untuk bertindak tegas demi mencegah gejolak ekonomi dan politik.
“Jangan sampai rupiah jadi Rp 21.000, Rp 22.000. Ini jadi punya dampak politik yang luar biasa negatif,” kata Hashim. []











