KETIKKABAR.com — Bupati Aceh Besar, H. Muharram Idris atau yang akrab disapa Syech Muharram, menegaskan agar peringatan Hari Damai Aceh ke-21 yang jatuh pada tahun 2026 ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial belaka.
Momen tersebut harus mampu merefleksikan hasil serta manfaat nyata dari perdamaian yang dirasakan oleh masyarakat.
Penegasan itu disampaikan Syech Muharram dalam Rapat Persiapan Hari Damai Aceh yang berlangsung di Ruang Rapat Sekretariat Daerah (Setda) Aceh, Senin (10/8/2026).
Rapat koordinasi tersebut dipimpin oleh Asisten Pemerintahan, Keistimewaan Aceh dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten I) Sekda Aceh, Drs. Syakir, M.Si., didampingi Ketua Badan Reintegrasi Aceh (BRA) Jamaluddin serta sejumlah pemangku kepentingan terkait.
Syech Muharram memaparkan bahwa momentum dua dekade lebih perdamaian ini harus digunakan untuk mengenang kembali sejarah kelam masa lalu sekaligus mengedukasi generasi muda mengenai esensi perdamaian di Bumi Serambi Mekkah.
“Perdamaian itu lahir dengan pengorbanan ratusan ribu jiwa akibat tsunami. Karena adanya tsunami maka lahirlah perdamaian. Ini perlu kita ingat supaya anak-anak kita tahu kenapa harus berdamai dan bagaimana perdamaian itu terjadi,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Aceh Besar mengusulkan agar panitia menghadirkan sejumlah tokoh penting yang berperan krusial dalam perundingan damai masa lalu, seperti Jusuf Kalla, Hamid Awaluddin, Bakhtiar Abdullah, Nur Juli, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga perwakilan lembaga internasional Crisis Management Initiative (CMI).
Ia juga meminta agar materi visual atau video yang diputar selama acara seremonial tidak hanya menampilkan program pembangunan fisik pemerintah, melainkan berfokus pada transformasi dan pencapaian komprehensif Aceh pasca-Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki.
“Jangan cuma perdamaian namanya saja, tetapi pencapaiannya tidak ada. Dengan adanya perdamaian apa hasilnya? Dengan adanya perdamaian apa untungnya bagi rakyat?” tegasnya.
Menurut Syech Muharram, narasi capaian pembangunan selama 21 tahun tanpa konflik bersenjata sangat penting untuk disebarluaskan, terutama guna membangun kesadaran sejarah bagi generasi muda yang lahir setelah masa konflik dan bencana tsunami.
“Perdamaian sudah 21 tahun. Itu sudah melahirkan anak yang dewasa. Mereka tidak tahu apa itu damai, tsunami pun mereka tidak tahu. Karena itu perlu edukasi berkelanjutan kepada masyarakat Aceh,” tambahnya.
Koordinasi Lintas Sektor dan Rencana Agenda
Sementara itu, Asisten I Sekda Aceh, Drs. Syakir, M.Si., menginstruksikan Ketua BRA untuk memperkuat komunikasi dan silaturahmi dengan pihak perbankan, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), serta berbagai lembaga strategis guna mendukung kesuksesan rangkaian peringatan Hari Damai Aceh agar berlangsung meriah dan berdampak luas.
Sebelumnya, Ketua BRA Jamaluddin telah memaparkan draf rencana kegiatan yang akan dihelat, termasuk permohonan dukungan dari seluruh Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) untuk menyukseskan agenda utama berupa zikir dan doa bersama di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.[]











