KETIKKABAR.com – Di tengah tensi geopolitik global yang terus memanas, Indonesia diingatkan untuk berhati-hati menentukan sikap. Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, mengeluarkan peringatan agar Indonesia tidak ikut terseret dalam konflik antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat.
Menurut Luhut, persoalan tersebut bukan sekadar isu politik luar negeri. Konflik di Timur Tengah juga berpotensi membawa dampak ekonomi langsung bagi Indonesia, terutama terkait harga energi dan bahan bakar.
“Kita jangan ikut-ikut memusuhi mereka. Tidak ada gunanya,” ujar Luhut melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Kamis (5/3/2026).
Peringatan itu muncul di tengah kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah dapat mengguncang pasar energi global.
Jika situasi memburuk, dampaknya bisa terasa hingga ke dompet masyarakat Indonesia melalui kenaikan harga BBM.
Secara global, Iran merupakan salah satu negara dengan cadangan minyak dan gas terbesar di dunia.
Posisi Iran dinilai sangat strategis dalam rantai pasokan energi global, terutama bagi kawasan Timur Tengah yang menjadi pusat produksi minyak dunia.
Jika Iran terkena embargo lebih keras atau terlibat konflik militer besar, pasokan minyak global berpotensi menyusut drastis.
Situasi ini akan berdampak langsung pada negara pengimpor minyak seperti Indonesia yang masih berstatus net importer.
Fluktuasi harga minyak dunia juga dinilai sangat memengaruhi biaya impor energi dan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Luhut menekankan bahwa Indonesia perlu bersikap realistis dan menjaga prinsip politik luar negeri bebas aktif dengan mempertimbangkan kepentingan ekonomi nasional.
“Ini berkaitan langsung dengan ekonomi kita,” kata Luhut.
Ia juga mengingatkan keterbatasan ketahanan energi nasional serta ketergantungan terhadap jalur distribusi energi global.
“Berapa banyak cadangan energi kita? Gas dan minyak kita sangat dipengaruhi Selat Hormuz,” tambahnya.
Salah satu skenario yang dikhawatirkan adalah gangguan jalur pengiriman energi global di Selat Hormuz, yang merupakan rute utama distribusi minyak dunia.
Jika jalur tersebut terganggu atau bahkan ditutup, dampaknya bagi Indonesia antara lain kenaikan biaya impor minyak mentah, tekanan besar terhadap subsidi energi dalam APBN, hingga potensi kenaikan harga BBM di dalam negeri.
Selain itu, situasi tersebut juga berpotensi memicu lonjakan biaya transportasi serta harga barang.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah disebut telah menyiapkan berbagai strategi, seperti pengembangan bahan bakar nabati (biofuel), percepatan penggunaan kendaraan listrik, serta diversifikasi sumber energi nasional.
Luhut juga mengajak masyarakat agar tidak bersikap ekstrem memihak salah satu kubu dalam konflik tersebut.
Menurutnya, kebijakan luar negeri Indonesia harus selalu berpijak pada kepentingan nasional, termasuk stabilitas ekonomi, energi, dan keamanan dalam negeri melalui strategi diplomasi kepentingan rakyat. []




















