KETIKKABAR.com – Direktur Rumah Sakit Lapangan di Gaza, Dr. Marwan Al-Hams, meminta komunitas internasional segera bertindak untuk menyelamatkan ribuan pasien yang terkepung di Jalur Gaza.
Permohonan ini disampaikan menyusul dibukanya kembali penyeberangan Rafah secara sangat terbatas oleh otoritas Israel.
Menurut pejabat kesehatan, kebijakan tersebut jauh dari cukup untuk mengatasi krisis medis yang tengah berlangsung.
Dalam pernyataan pada Senin, Dr. Al-Hams memperingatkan bahwa proses evakuasi medis berjalan sangat lambat.
Dengan kapasitas evakuasi saat ini, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memindahkan seluruh pasien yang membutuhkan perawatan mendesak ke luar negeri.
Kondisi tersebut, kata dia, sama dengan vonis mati bagi ribuan warga yang sakit parah.
Ia menegaskan banyak pasien luka berat dan penderita penyakit kronis tidak dapat tertangani di Gaza. Hal itu disebabkan sistem kesehatan yang hancur akibat perang berkepanjangan.
Keterlambatan evakuasi dinilai memperparah penderitaan pasien yang seharusnya bisa diselamatkan.
“Membuka kembali penyeberangan Rafah untuk sejumlah kecil pasien adalah langkah yang sangat terbatas dan tidak memenuhi kebutuhan mendesak dari ribuan orang yang nyawanya terancam,” kata Al-Hams.
“Kami membutuhkan jalur medis yang aman dan berkelanjutan untuk memastikan semua pasien yang membutuhkan perawatan di luar negeri dapat segera berangkat.” tambahnya.
Ia menekankan evakuasi medis harus dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan.
Otoritas Israel diketahui baru mengizinkan sebagian kecil pasien keluar dari Gaza melalui Rafah. Kebijakan ini berlaku untuk pertama kalinya sejak penyeberangan tersebut ditutup saat serangan militer di Rafah pada Mei lalu.
Meski demikian, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 25.000 pasien masih membutuhkan evakuasi medis mendesak.
Ribuan pasien tersebut mencakup penderita kanker dan warga dengan luka serius akibat perang. Banyak dari mereka membutuhkan perawatan spesialis yang tidak tersedia di Gaza. Kondisi ini membuat risiko kematian terus meningkat setiap hari.
Sejak perang Israel di Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023, sistem kesehatan di wilayah itu mengalami keruntuhan.
Pemboman berulang serta kelangkaan obat-obatan, bahan bakar, dan air bersih membuat banyak rumah sakit berhenti beroperasi. Fasilitas yang masih berfungsi pun bekerja jauh di bawah kapasitas normal.
Organisasi kesehatan internasional, termasuk WHO, telah berulang kali menyerukan evakuasi medis tanpa hambatan.
Mereka memperingatkan banyak kematian dapat dicegah jika pasien memperoleh akses perawatan di luar Gaza. Tanpa jalur evakuasi yang aman, krisis kemanusiaan dipastikan terus memburuk.
Kementerian Kesehatan Gaza mendesak Mesir dan komunitas internasional menekan Israel agar membuka penuh penyeberangan Rafah. Mereka meminta seluruh pasien diizinkan keluar tanpa diskriminasi dan penundaan.
“Setiap hari penundaan berarti lebih banyak nyawa yang hilang secara tragis,” pungkas Dr. Al-Hams. []
Langgar Gencatan Senjata, Israel Diingatkan Hamas soal Konsekuensi Besar


















