Internasional

Donald Trump Batal Serang Iran, Ada Apa?

KETIKKABAR.com – Kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, beserta kelompok tempurnya dilaporkan akan tiba di Timur Tengah dalam beberapa hari mendatang untuk merespons dinamika keamanan kawasan.

Langkah militer ini dianggap sulit diprediksi lantaran Presiden Donald Trump sebelumnya sempat menyatakan pembatalan rencana serangan baru terhadap Iran.

Meski demikian, pergerakan armada besar ini tetap dilakukan seiring meningkatnya tensi hubungan antara Teheran dan Washington pasca gelombang protes besar di negara Islam tersebut.

Kelompok tempur ini diketahui telah bergerak meninggalkan wilayah Asia-Pasifik sejak pekan lalu di tengah laporan adanya penindakan keras terhadap demonstran di Iran.

Selain kapal induk, salah satu pejabat Amerika menyebutkan bahwa pengerahan sistem pertahanan udara tambahan saat ini juga sedang dalam tahap pertimbangan serius.

BACA JUGA:
Trump Tolak Cabut Blokade Iran Sebelum Kesepakatan, Ketegangan Selat Hormuz Memuncak

Meskipun para pakar menilai pengerahan ini bersifat defensif, militer AS sebelumnya terbukti pernah merahasiakan niat tempur mereka sebelum melancarkan serangan terhadap program nuklir Iran.

Presiden Donald Trump sendiri menunjukkan sikap yang fluktuatif setelah protes di Iran mulai mereda dan perhatiannya sempat teralih pada isu geopolitik lain seperti Greenland.

Namun, dalam wawancaranya di Davos, Trump kembali memberikan peringatan keras bahwa Amerika Serikat akan bertindak jika Teheran nekat melanjutkan program nuklirnya.

“Mereka tidak bisa melakukan [pekerjaan proyek] nuklir,” kata Trump kepada CNBC yang merujuk pada serangan udara besar-besaran AS pada Juni 2025 lalu.

Kekhawatiran Washington didasari oleh mandeknya proses verifikasi persediaan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran oleh badan pengawas nuklir PBB selama tujuh bulan terakhir.

Berdasarkan standar IAEA, Iran diduga memiliki sekitar 440,9 kg uranium dengan tingkat kemurnian 60 persen yang secara teknis cukup untuk memproduksi 10 bom nuklir jika diperkaya lebih lanjut.

BACA JUGA:
Iran Tutup Kembali Selat Hormuz, Buntut Blokade AS

Kondisi ini membuat AS mendesak laporan transparan mengenai apa yang sebenarnya terjadi di lokasi-lokasi yang sempat dihantam serangan udara tahun lalu.

Di sisi lain, situasi internal Iran masih mencekam dengan jumlah korban jiwa akibat kerusuhan yang dilaporkan mencapai angka ribuan orang.

Kelompok hak asasi manusia HRANA menyatakan telah memverifikasi setidaknya 4.519 kematian, sementara laporan lain dari pejabat setempat menyebutkan angka korban tewas telah menembus 5.000 jiwa. []

KPK Periksa Eks Menpora Dito Ariotedjo Terkait Skandal Korupsi Haji

TERKAIT LAINNYA