KETIKKABAR.com – Banjir bandang melanda Hat Yai, Provinsi Songkhla, Thailand, sejak akhir pekan lalu, menimbulkan kemarahan besar di kalangan warganet.
Hingga Jumat (28/11/2025), tercatat 145 korban jiwa, ribuan rumah terendam, dan infrastruktur kota lumpuh total.
Sorotan warganet kini tertuju pada Walikota Hat Yai, Narongporn Na Phatthalung. Ia menjadi bulan-bulanan di media sosial karena dianggap meremehkan ancaman banjir dan gagal menyiapkan evakuasi massal. Seruan agar Walikota mundur pun menggema di jagat maya.
“Lebih dari 100 nyawa melayang. Bagaimana kalian bertanggung jawab?” tulis pengguna Facebook Pan Praphan Sirisophone.
Pengguna lain, Klaw Sangkhom, menulis, “Jika saya menjadi Walikota Hat Yai, saya akan mengumumkan pengunduran diri. Aku tidak tahu ke mana aku akan pergi setelah ini.”
Akun Ton Tan menambahkan, “Saya benar-benar merindukan kalimat ‘jaga-jaga’. Sepertinya kamu tidak mengenal kata ‘Musibah’. Anda benar-benar meremehkannya.”
Kemarahan publik ini muncul karena Walikota Narongporn dianggap terlalu percaya diri menghadapi hujan lebat.
Alih-alih melakukan mitigasi dan evakuasi massal, Narongporn terus meyakinkan warga bahwa banjir besar tidak akan melanda seluruh kota.
“Kami menjamin banjir akan surut pada Sabtu jika tidak ada hujan lagi,” ujarnya pada Jumat pekan lalu (21/11/2025).
Bahkan ketika hujan deras kembali mengguyur kota, Narongporn menekankan bahwa peringatan siaga darurat bendera merah hanya berlaku untuk beberapa komunitas saja, dan keberadaan kanal U-tapao serta Kanal Bhuminartdhamri akan menyalurkan kelebihan air ke Danau Songkhla sehingga situasi terkendali.
Akibatnya, banyak warga enggan mengungsi, dan sebagian besar korban tewas berada di Hat Yai, episentrum banjir terparah.
Tim penyelamat pemerintah Thailand memperkirakan jumlah korban di kota ini akan melampaui 100 orang.
Menanggapi kontroversi tersebut, pada Jumat (28/11/2025), Walikota Narongporn mengeluarkan permohonan maaf resmi.
“Saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada seluruh warga Hat Yai atas kesalahan penanganan situasi banjir ini. Bencana alam kali ini sangat berat dan melebihi kemampuan kami,” ujarnya kepada program berita Channel 3.
Berdasarkan data terbaru Pemerintah Thailand, hingga Jumat, korban tewas akibat banjir di wilayah selatan Thailand mencapai 145 orang, meningkat dari laporan sebelumnya 85 korban jiwa pada Rabu (26/11/2025).
Provinsi Songkhla menjadi daerah dengan korban tertinggi, lebih dari 100 orang, termasuk Hat Yai. Provinsi lain yang terdampak antara lain:
-
Nakhon Si Thammarat: 9 orang
-
Pattani: 6 orang
-
Yala dan Satun: masing-masing 5 orang
-
Narathiwat dan Phatthalung: masing-masing 4 orang
-
Trang: 2 orang
Meski sebagian besar genangan air mulai surut, pemerintah Thailand terus mengoperasikan tempat penampungan untuk pengungsi, dengan kapasitas tambahan mencapai 20.840 orang, memastikan warga terdampak mendapatkan bantuan darurat.[]











