Daerah

Gampong Empee Trieng Aceh Besar Pertahankan Tradisi Kue Khas Aceh

KETIKKABAR.comCamat Darul Kamal, Husaini SPdI, bersama Tim Media Center Diskominfo Aceh Besar, mengunjungi Gampong Empee Trieng untuk menjajal kue khas Aceh yang masih diproduksi oleh masyarakat setempat.

Kegiatan ini berlangsung Rabu (12/11/2025) dan sekaligus menjadi ajang promosi kuliner tradisional.

Gampong Empee Trieng dikenal sebagai salah satu gampong yang masih menjaga tradisi pembuatan kue khas Aceh.

Camat Husaini menjelaskan, beberapa rumah warga masih memproduksi kue untuk acara adat perkawinan maupun konsumsi sehari-hari.

“Dengan masih diproduksinya kue khas Aceh, masyarakat telah menjaga tradisi adat dan budaya Aceh. Atas nama pemerintah, kita akan terus memberikan dukungan, terutama dalam promosi dan akses pasar, misalnya melalui pameran HUT Aceh Besar yang akan datang,” ujar Husaini.

BACA JUGA:
Baitul Mal Aceh Besar Buka Pendaftaran Bantuan Modal Usaha Mikro 2026

Keuchik Empee Trieng, Tarmizi, menyebutkan bahwa sebelumnya ada belasan keluarga yang memiliki usaha kue khas Aceh. Namun saat ini, hanya tujuh rumah produksi yang masih aktif.

Salah seorang pemilik usaha, Arif Setia Rahman dari Ar Rahman Kue Aceh, mengungkapkan bahwa meski pemesanan menurun di luar musim hari raya, usaha mereka tetap berjalan.

“Insya Allah permintaan saat ini masih ramai, karena kami juga memproduksi ukuran kecil dengan berbagai rasa untuk cemilan sehari-hari,” ujar Arif.

Arif menambahkan, salah satu kendala utama para pelaku usaha adalah alat pengaduk kue yang masih manual.

Menurutnya, jika tersedia mesin aduk otomatis, produktivitas akan meningkat secara signifikan. Harga mesin tersebut diperkirakan sekitar Rp25 juta.

BACA JUGA:
TMMD ke-128 Aceh Tamiang Resmi Dibuka, Fokus Bangun Infrastruktur dan Pemulihan Pascabencana

Beberapa jenis kue khas Aceh yang diproduksi di Empee Trieng antara lain: Dodol, Meuseukat, Karah, Wajik, Halua Breuh, Bhoi dan Bungoeng Kayee / Peunajoeh.

Kue-kue ini telah menerima pesanan dari berbagai wilayah di Sumatera hingga Pulau Jawa, menunjukkan daya tarik kuliner tradisional Aceh yang tetap kuat di pasar lokal maupun nasional.[]

Kisah Cokbang: Dari “Alat Seadanya” Jadi Primadona Baru Sabang

TERKAIT LAINNYA