Politik

Pertemuan Gibran-Dasco, Manuver Politik Cerdas di Tengah Isu Pemakzulan dan Reshuffle Kabinet

KETIKKABAR.com – Pertemuan makan siang antara Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad pada Sabtu, 9 Agustus 2025, dinilai bukan sekadar ajang silaturahmi biasa.

Pengamat politik Subairi Muzakki menyebut pertemuan itu sebagai manuver politik cerdas dan strategis di tengah dinamika nasional yang semakin kompleks.

Direktur Eksekutif Institut Demokrasi Republikan ini berpendapat, pertemuan Gibran dan Dasco bisa dilihat sebagai langkah konsolidasi dukungan internal koalisi, terutama dari Partai Gerindra sebagai tulang punggung pemerintahan Prabowo-Gibran.

Hal ini penting mengingat isu pemakzulan terhadap Gibran masih terus bergulir.

“Ini adalah langkah yang bisa dibaca sebagai upaya Gibran untuk mengonsolidasikan dukungan internal koalisi, terutama dari Partai Gerindra, sebagai tulang punggung pemerintahan Prabowo-Gibran, di saat isu pemakzulan terhadap dirinya terus bergulir sejak awal 2025,” ujar Subairi kepada aktual.com, Minggu (10/8/2025).

Menurut Subairi, usulan pemakzulan yang diajukan oleh Forum Purnawirawan Prajurit TNI, meskipun sulit terwujud secara konstitusional, tetap menjadi ancaman simbolis yang dapat mengganggu stabilitas eksekutif.

Dengan bertemu Dasco, yang merupakan tokoh kunci Gerindra, Gibran mengirimkan sinyal kuat bahwa posisinya aman dan solid di bawah payung Prabowo.

BACA JUGA:
Spanduk Provokatif Muncul di Aceh Besar, Upaya Adu Domba Masyarakat Dikecam

“Dengan bertemu Dasco, yang bukan hanya Wakil Ketua DPR tapi juga tokoh kunci Gerindra, Gibran seolah mengirim sinyal kuat, posisinya aman di bawah payung Prabowo, dan setiap upaya destabilisasi akan dihadapi dengan solidaritas legislatif-eksekutif,” paparnya.

Subairi juga melihat pertemuan ini dalam konteks kedekatan baru antara Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan pemerintahan Prabowo, pasca-pemberian amnesti kepada Hasto Kristiyanto pada 31 Juli 2025.

“Amnesti terhadap Hasto ini bukan hanya gestur hukum tapi barter politik yang cerdik. Prabowo merangkul oposisi potensial, sementara Megawati mendapatkan ruang untuk mendukung pemerintahan tanpa kehilangan muka di basisnya,” tutur Subairi.

Oleh karena itu, pertemuan Gibran-Dasco bisa menjadi ekstensi dari rekonsiliasi antara Prabowo-Jokowi. Gibran ingin memastikan bahwa kedekatan Mega-Prabowo tidak menggerus posisinya, melainkan justru memperkuatnya dengan menjaga aliansi Gerindra tetap solid.

Di balik suasana santai dengan menu mie bakso dan dendeng balado, ada dimensi lain yang tak kalah penting, yakni pengamanan jaringan Gibran di tengah hembusan isu reshuffle kabinet.

Meskipun Presiden Prabowo menyatakan belum akan melakukan perombakan dalam waktu dekat, rumor tersebut tetap beredar, terutama setelah amnesti Hasto.

BACA JUGA:
Satu Tahun Kepemimpinan Zulkifli–Suradji, Melanjutkan dan Menguatkan Pembangunan Sabang

“Amnesti terhadap Hasto kan membuka pintu bagi kader PDIP untuk masuk kabinet. Jadi, isu pergantian menteri tetap berhembus meski Presiden Prabowo tegaskan belum ada reshuffle,” ucap Subairi.

Sebagai putra Jokowi, Gibran memiliki jaringan loyalis di berbagai pos kementerian. Pertemuan dengan Dasco ini dinilai sebagai upaya preventif untuk ‘mengamankan’ orang-orang dekat Jokowi di kabinet.

“Memastikan bahwa jika reshuffle terjadi, posisi strategis tetap dipegang oleh figur-figur dekat Gibran atau Jokowi, bukan digeser oleh pengaruh baru dari PDIP. Ini adalah politik preventif yang brilian,” kata Subairi.

Terakhir, Subairi menyimpulkan bahwa pertemuan ini juga berfungsi untuk menunjukkan kepada publik bahwa hubungan antara Jokowi dan Prabowo baik-baik saja di tengah berbagai isu, seperti ijazah palsu Jokowi, usulan pemakzulan, dan pemberian amnesti-abolisi yang seolah bertentangan dengan sikap Jokowi.

“Presiden Prabowo kini mulai membentuk karakter dan visi politiknya sendiri, tidak lagi sebatas presiden bayangan dari ambisi Jokowi. Presiden Prabowo ingin menegaskan saat ini adalah sebagai subjek politik independen,” pungkas Subairi.[]

Sikap Gibran Tak Salami AHY Dinilai Sarat Makna Politik, Simbol Jarak Antara ‘Geng Solo’ dan ‘Geng Pacitan’

TERKAIT LAINNYA