Internasional

RS Indonesia Dibombardir Israel, Direktur Gugur Saat Jalankan Tugas Kemanusiaan

KETIKKABAR.com – Dunia medis kembali berduka. Direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza, dr Marwan Sultan, gugur dalam serangan udara Israel yang menghantam rumahnya di Gaza barat. Tragedi ini menewaskan dr Marwan beserta istri dan lima anggota keluarganya.

Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan, serangan yang menargetkan kediaman dr Marwan adalah bagian dari upaya sistematis Israel dalam menyasar tenaga medis dan fasilitas kemanusiaan.

“Dengan kesedihan mendalam, kami berduka atas syahidnya dr Marwan Sultan, direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza utara, bersama keluarganya. Ini adalah kejahatan terencana terhadap kemanusiaan,” bunyi pernyataan resmi Kemenkes Gaza, seperti dikutip Al Jazeera, Rabu (25/6/2025).

Tragedi ini menambah panjang daftar korban tenaga medis di Gaza. Hingga saat ini, menurut data Kantor Media Pemerintah Palestina, 1.580 tenaga medis telah gugur sejak dimulainya genosida pada 7 Oktober 2023.

Pada hari yang sama, serangan drone Israel juga menewaskan lima warga sipil di Deir al-Balah, Gaza tengah, termasuk dua dokter, dua anak perempuan, dan seorang wanita. Banyak korban luka lainnya kini berada dalam kondisi kritis.

BACA JUGA:
Aktivis Ungkap Dugaan Pengambilan Kulit Jasad Warga Palestina untuk Bank Kulit Israel

Baca juga: Khamenei Serukan Persatuan Umat: “Perpecahan Sunni-Syiah Adalah Proyek Musuh”

Dalam sebuah video yang dikirim ke MER-C Indonesia sebelum wafatnya, dr Marwan menyerukan agar pemerintah dan rakyat Indonesia menekan Israel untuk gencatan senjata.

“Yang kami butuhkan adalah Indonesia dan warganya menekan agar pihak Israel memberlakukan gencatan senjata. Kami berdiri bersama pasien kami di RS Indonesia. Kami berharap tempat ini akan aman,” ucapnya dalam video, penuh harap dan keteguhan.

Ia juga mengirim pesan khusus kepada masyarakat Indonesia: “Teruslah mendukung kami. Doakan kami.”

RS Indonesia, yang dibangun hasil donasi rakyat Indonesia, telah menjadi simbol solidaritas kemanusiaan di Gaza utara. Namun sejak awal agresi, rumah sakit ini menjadi sasaran serangan bertubi-tubi oleh militer Israel (IDF).

Lembaga HAM Palestina, Al-Haq, mendokumentasikan serangkaian serangan terhadap rumah sakit ini sejak Oktober 2023:

  • 7 Oktober 2023: Serangan udara pertama IDF di luar rumah sakit menewaskan dua staf, melukai lima lainnya.

  • 24 Oktober 2023: Generator listrik rusak. Rumah sakit lumpuh, padahal terus menerima gelombang korban dari Jabalia, Beit Hanoun, dan Beit Lahiya.

  • 28 Oktober 2023, pukul 07.18: Tembakan artileri menghantam langsung bangunan utama rumah sakit.

  • 9–10 November 2023: RS kehilangan total akses listrik, air, dan komunikasi. Operasional terhenti total.

BACA JUGA:
Trump Tabuh Genderang Perang! Perintah Blokade Selat Hormuz: Hancurkan Siapa Pun yang Melawan!

Dokter-dokter relawan MER-C menyebut Israel secara sistematis menargetkan infrastruktur penunjang medis seperti generator dan suplai air bersih.

“Ruangan Pembaca Republika yang awalnya untuk poliklinik, kini menjadi kamar jenazah,” ungkap pernyataan MER-C saat itu.

Kepergian dr Marwan bukan hanya kehilangan seorang dokter. Ia adalah simbol keteguhan dan kemanusiaan di tengah kebiadaban perang. Ia tetap tinggal di garis depan, mendampingi pasiennya, bahkan saat nyawanya sendiri terancam.[]

TERKAIT LAINNYA