KETIKKABAR.com – Selembar ijazah yang seharusnya menjadi penutup masa studi kini justru menjadi sumber keributan nasional.
Drama panjang soal keaslian ijazah Jokowi, memasuki babak baru usai Bareskrim Polri secara resmi menyatakan ijazah tersebut adalah otentik.
Namun, tidak semua pihak menerima kesimpulan itu. Di tengah kepastian dari otoritas negara, keraguan terus dipelihara, terutama oleh Tim Pembela Ulama dan Aktivis, serta nama-nama lama dalam isu ini seperti Roy Suryo dan Rismon Sianipar.
Roy Suryo & Koalisi Keraguan
Mantan Menpora Roy Suryo bersama sejumlah pihak kembali memantik api polemik dengan menyebut ijazah Jokowi sebagai “produk palsu” dan menuntut pengadilan.
Tuduhan ini sejatinya bukan baru, namun entah mengapa, selalu menemukan panggungnya kembali.
Motifnya? Bukan sekadar soal ijazah. Ini tentang politik tingkat tinggi yang berselimut isu pendidikan.
Jokowi Membalas: Lapor Balik ke Polisi
Tak tinggal diam, Jokowi mengambil langkah hukum. Dari kediamannya di Solo, ia menyambangi Polda Metro Jaya, melaporkan beberapa nama atas tuduhan pencemaran nama baik.
Ini bukan semata reaksi emosional, tapi langkah strategis yang, menurut analis politik UGM Arya Budi, adalah bagian dari permainan komunikasi politik pasca-kekuasaan.
“Jokowi bukan siapa-siapa secara jabatan sekarang, tapi jangkar politiknya masih kuat, apalagi dengan anaknya jadi Wakil Presiden. Dukungan publik adalah kartu trufnya,” kata Arya.
Arya menilai, polemik ini menguntungkan Jokowi secara narasi. Ia tampil sebagai korban fitnah, sosok yang diserang tanpa henti, meski sudah lengser dari kekuasaan.
Media, Momentum, dan Manfaat
Pendapat mengejutkan datang dari Pemimpin Redaksi tvOne, Mara Satriawangsa. Ia menyebut justru Jokowi adalah pihak yang paling diuntungkan dari kontroversi ini.
“Bayangkan, setiap hari Jokowi masih dibahas, bahkan lebih sering daripada presiden aktif. Itu tidak terjadi pada SBY. Ini membuat Jokowi tetap ada di top of mind publik,” ujar Mara.
Menurutnya, media punya insentif untuk terus mengangkat isu ini: publik suka dramanya, dan tokoh utamanya masih sangat relevan.
Bareskrim Tutup Panggung? Belum Tentu
Mabes Polri sebenarnya sudah melakukan langkah finalisasi. Mereka menunjukkan bukti kegiatan lapangan Jokowi saat kuliah, termasuk KKN di Boyolali, praktik kehutanan di Ngawi, Cilacap, dan Rembang, hingga skripsi dan dokumen pendukung yang identik dengan mahasiswa UGM era 1980-an.
Namun tetap saja, keraguan terus digaungkan.
Siapa yang Menang?
Jika kita bicara soal hukum, Jokowi sudah menang, ijazah dinyatakan asli, bukti akademik lengkap, laporan pencemaran nama baik sedang diproses. Tapi dalam politik dan opini publik, narasinya lebih cair.
Roy Suryo dan tim menang panggung, sementara Jokowi menang simpati. Tapi dari sisi komunikasi politik, Jokowi tetap menjadi tokoh utama yang diberitakan, bahkan ketika ia tidak lagi menjabat.
Penutup: Politik Pasca-Kekuasaan
Ini bukan sekadar soal pendidikan. Ini tentang relevansi kekuasaan, tentang bagaimana seorang mantan presiden menjaga pengaruh politiknya lewat kontroversi, dan bagaimana media serta oposisi menunggangi setiap celah untuk membuatnya tetap berada di bawah sorotan tajam publik.
Satu hal yang pasti, drama ijazah ini bukan soal ijazah semata. Ini tentang siapa yang boleh tetap bicara, bahkan ketika kekuasaan sudah berpindah tangan.
Dan sejauh ini, Jokowi masih memegang mikrofon.[]











