KETIKKABAR.com – Suasana kampus di berbagai penjuru negeri berubah tegang. Dari barat hingga timur Indonesia, gelombang penangkapan mahasiswa mewarnai bulan Mei 2025.
Aparat keamanan terus melakukan tindakan represif, mulai dari unjuk rasa Hari Buruh, meme kontroversial, hingga tuntutan penurunan UKT.
Pertanyaannya: apa yang sebenarnya sedang terjadi?
May Day Berujung Tangan Diborgol
Awal bulan ini, Kamis (1/5/2025), Semarang menjadi titik panas. Aksi memperingati Hari Buruh Internasional di depan Kantor Gubernur dan DPRD Jawa Tengah berakhir ricuh.
Polisi menangkap 14 mahasiswa—enam di antaranya langsung ditetapkan sebagai tersangka oleh Polrestabes Semarang.
Mereka berasal dari berbagai kampus besar: Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Semarang, Universitas Muhammadiyah Semarang, hingga Universitas Diponegoro (Undip).
Kombes Pol M Syahduddi menyebut keenam tersangka sebagai bagian dari kelompok “Anarko”, meski hingga kini belum ada bukti yang dipublikasikan ke publik.
Meme Ciuman Presiden, Mahasiswa Ditangkap
Tak kalah kontroversial, Bareskrim Polri menciduk seorang mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB berinisial SSS (6/5).
Penyebabnya? Meme yang menampilkan Presiden Prabowo dan mantan Presiden Jokowi tengah berciuman beredar luas di media sosial.
Meskipun akhirnya ditangguhkan penahanannya, penangkapan ini memicu perdebatan soal batas kebebasan berekspresi di era digital.
Dua Mahasiswa Undip Diciduk karena Lindungi Polisi?
Tanggal 13 Mei, dua mahasiswa Undip, MRS dan RSB, ditangkap dengan tuduhan menyekap anggota kepolisian pascakerusuhan May Day.
Namun versi dari Ketua BEM Undip, Aufa Atha Ariq, justru berbeda. Menurutnya, kedua mahasiswa itu bukan menyekap, melainkan justru melindungi intel polisi yang penyamarannya terbongkar agar tidak menjadi sasaran massa.
“Narasi penyanderaan itu ngawur. Mereka berdua justru mengamankan sang intel agar tidak dihakimi massa,” kata Aufa.
93 Mahasiswa Trisakti Ditangkap di Balai Kota Jakarta
Puncaknya terjadi pada 21 Mei. Aksi mahasiswa Universitas Trisakti di Balai Kota Jakarta pecah jadi kericuhan. Gerbang dibobol, tujuh polisi terluka, dan 93 mahasiswa digelandang ke Polda Metro Jaya.
Kombes Pol Ade Ary mengatakan, tes urine dilakukan kepada seluruh mahasiswa yang ditangkap, dan tiga di antaranya positif ganja. Sementara 90 lainnya masih diperiksa karena diduga terlibat pemukulan.
Amnesty International pun turun tangan. Usman Hamid, Direktur Eksekutifnya, mendesak Kapolda untuk mempertimbangkan pembebasan mahasiswa.
Menurutnya, aksi itu adalah bentuk perjuangan untuk mengenang para mahasiswa reformasi yang gugur, dan semestinya tidak berujung kriminalisasi.
Jayapura Bergejolak: Mahasiswa Uncen Dibubarkan dengan Meriam Air
Gelombang aksi tak hanya terjadi di Jawa. Di ujung timur Indonesia, Jayapura bergolak.
Puluhan mahasiswa Universitas Cenderawasih (Uncen) menuntut penurunan UKT dan biaya semester pada Kamis (22/5). Namun tuntutan itu dibalas semprotan meriam air dan tuduhan menyerang polisi.
Kapolresta Jayapura AKBP Fredrickus Maclarimboen menyebut empat anggotanya terluka dan satu truk operasional terbakar akibat lemparan batu dari massa.
Tak ada kejelasan apakah mahasiswa ditangkap dalam insiden itu.
Bukan Sekadar Demonstrasi
Dari meme satir hingga aksi menuntut hak pendidikan, gelombang penangkapan mahasiswa ini menunjukkan pola: ruang berekspresi dan menyuarakan kritik semakin sempit.
Apakah ini sekadar penegakan hukum? Ataukah kita sedang menyaksikan bayang-bayang otoritarianisme di kampus dan ruang publik?
Satu hal yang pasti: para mahasiswa kembali menjadi garda depan dalam mempertanyakan arah bangsa ini—dan mereka dibalas dengan borgol.[]


















