KETIKKABAR.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tengah jadi buah bibir di jagat maya.
Gaya politiknya yang kerap turun langsung menyapa warga dinilai netizen mirip dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di masa awal kariernya. Tak ayal, muncul julukan baru: Mulyono Jilid II.
Julukan itu, menurut Dedi, lahir dari perhatian publik yang begitu besar terhadap gerak-geriknya.
“Setelah berhasil menyelamatkan anak-anak muda lewat pendidikan barak, sekarang mulai banyak yang mengepung lagi, menyematkan label seperti ‘Gubernur Konten’ atau ‘Gubernur Pencitraan’,” ujar Dedi, Senin (19/5).
Salah satu video lama yang viral kembali memperkuat kesan itu: Dedi mengaduk semen, lalu disebut-sebut hanya sedang membangun citra. Namun Dedi santai.
Ia malah menyindir para buzzer yang menurutnya bukan berasal dari Jawa Barat. “Silakan saja bikin konten negatif sebanyak-banyaknya, agar dapurnya tetap ngebul,” kata dia.
Namun, apakah Dedi benar-benar versi baru Jokowi?
Pengamat politik Burhanuddin Muhtadi tak sependapat. Dalam kanal YouTube Kompas TV, ia menilai perbedaan antara keduanya cukup mencolok.
“KDM itu artikulatif. Ia bisa debat, diskusi. Jokowi tidak begitu,” ujar Burhan.
Ia mencontohkan bagaimana Dedi bersitegang dengan buruh saat masih menjadi anggota DPRD Purwakarta.
Beda dengan koleganya yang memilih menghindar, Dedi justru hadir dan berdebat langsung-langkah yang justru melambungkan namanya.
Burhan juga menyebut perbedaan latar belakang. Jokowi, kata dia, aktivis Mapala yang pendiam. Dedi? Aktivis tulen HMI, vokal dan penuh argumentasi.
Meski gaya blusukan mereka serupa, cara bicara dan jalur perjuangan keduanya tak sama. Maka, menyebut Dedi sebagai ‘Jokowi 2.0’ barangkali terlalu menyederhanakan.[]












