Nasional

Karhutla Ancam 57 Ribu Orang Utan di Kalimantan, 60 Persen Disebut Terdampak Parah

KETIKKABAR.com, Kalimantan — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak terhadap sekitar 57.000 orang utan di Kalimantan. Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Drh. Raden Wisnu Nurcahyo, mengatakan sekitar 60 persen dari populasi tersebut mengalami dampak serius akibat kehilangan habitat dan sumber pakan.

“Dari 57.000 itu yang 60%-nya itu betul-betul sangat terdampak akibat kebakaran hutan. Itu sangat berdampak sekali karena mereka itu kehilangan habitat-habitat,” jelasnya dalam podcast UGM “Kebakaran Hutan dan Lahan: Sejarah, Antisipasi, dan Penanganannya”, dikutip Minggu (18/10/2026).

Wisnu menjelaskan, pohon bukan hanya menjadi tempat hidup orang utan, tetapi juga sumber makanan dan air bagi satwa liar. Pucuk-pucuk pohon, misalnya, menjadi salah satu sumber air yang dibutuhkan satwa untuk bertahan hidup.

Ketika karhutla melanda hutan, orang utan terpaksa turun ke permukaan tanah untuk mencari air. Namun, kondisi tersebut justru membahayakan mereka karena lahan gambut yang terbakar dapat menyimpan bara di bawah permukaan tanah.

Akibatnya, orang utan berisiko mengalami luka bakar pada kaki ketika menginjak tanah yang masih menyimpan panas. Kehilangan habitat juga membuat satwa kehilangan sumber pakan yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

BACA JUGA:  Mahfud MD Sebut Bangsa Sedang Sakit Usai OTT KPK di BNPB, Soroti Dugaan Korupsi Dana Bencana

“Nah, jadi yang penting pertama itu kehilangan habitat. Kemudian yang kedua, kehilangan sumber pakan seperti yang saya sebutkan itu ya, pakan-pakan yang mereka perlukan. Karena saya mendalami namanya self-medicated animal behavior, tingkah laku satwa liar di dalam menyembuhkan dirinya sendiri,” ungkap Prof. Wisnu.

Ia menjelaskan, keragaman tumbuhan yang tersedia di habitat alami juga berperan dalam perilaku satwa menyembuhkan diri ketika mengalami gangguan kesehatan. Orang utan diketahui memanfaatkan jenis tumbuhan tertentu yang dipelajarinya untuk membantu mengatasi kondisi yang dialami.

“Jadi, dia memerlukan keragaman pakan itu sebagai obat dia kalau sakit. Kalau saya diare, saya mengambil tanaman ini. Saya diare ngambil itu ya. Misalnya di Sebangau, saya penelitian di sana ya, itu ada beberapa tanaman yang oleh masyarakat Dayak itu sebagai obat-obatan. Sumbernya dari orang utan. Dia belajar,” terangnya.

Gangguan Pernapasan hingga Risiko Kematian

Selain kehilangan habitat dan sumber pakan, karhutla juga menimbulkan gangguan kesehatan bagi orang utan. Wisnu mengatakan iritasi mata dan infeksi saluran pernapasan termasuk gangguan kesehatan yang kerap dialami satwa akibat kebakaran hutan.

BACA JUGA:  BREAKING NEWS: Prabowo Lantik Maruli Jadi Wakil Panglima TNI, Tandyo Kini Pimpin TNI AD

Gangguan pernapasan tersebut dapat berujung pada kematian. Namun, jumlah satwa liar yang mati akibat karhutla diperkirakan lebih besar daripada yang berhasil ditemukan petugas karena luasnya kawasan hutan yang terdampak.

Menurut Wisnu, petugas umumnya menemukan bangkai satwa di sekitar jalur yang sering dilalui manusia. Sementara itu, kematian satwa di bagian dalam hutan sulit terpantau karena keterbatasan jangkauan pengawasan.

“Nah, yang jadi masalah beberapa petugas itu hanya menemukan beberapa di jalur jalan yang sering dilalui manusia, tetapi yang jutaan hektare ya. Kalau di Kalimantan habitatnya orang utan itu 1,9 juta hektare ya. Kalau di Sumatera sekitar lebih sedikit ya 1,1 juta hektare. Itu yang di tengah itu enggak pernah terpantau,” terangnya.

Ia memperkirakan banyak satwa liar yang mati di kawasan hutan yang tidak terjangkau pemantauan. Kondisi tersebut membuat jumlah kematian satwa akibat karhutla sulit diketahui secara pasti.

“Yang ada di tengah itu enggak pernah ditemukan berapa yang mati. Sehingga asumsi kita sebetulnya banyak sekali kematian pada satwa-satwa liar yang ada di dalam hutan,” imbuh Prof. Wisnu. []

TERKAIT LAINNYA