KETIKKABAR.com — Survei Arawicaksa Institute pada 3–8 Oktober 2026 memetakan persepsi publik terhadap kinerja para menteri di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam hasil survei tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia disebut berada di urutan pertama dalam daftar 10 menteri yang mendapat penilaian terburuk, berdasarkan keterangan peneliti senior lembaga itu.
Peneliti senior Arawicaksa Institute, Rudi Hartono, mengatakan persepsi negatif terhadap Bahlil dipicu sejumlah persoalan di sektor energi.
Di antaranya isu kenaikan dan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi serta kebijakan tata kelola pertambangan dan minyak dan gas bumi (migas) yang dinilai belum berpihak kepada publik.
Daftar 10 Menteri dalam Hasil Survei
Selain Bahlil, survei tersebut mencantumkan sembilan pejabat lainnya dalam daftar menteri dengan penilaian terburuk menurut persepsi responden.
Berikut nama-nama yang tercantum dalam hasil survei, sesuai urutan yang dirilis:
- Bahlil Lahadalia — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
- Natalius Pigai — Menteri Hak Asasi Manusia
- Raja Juli Antoni — Menteri Kehutanan
- Nusron Wahid — Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN
- Sudaryono — Kepala Badan Gizi Nasional
- Zulkifli Hasan — Menteri Koordinator Bidang Pangan
- Pratikno — Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
- Saifullah Yusuf — Menteri Sosial
- Muhaimin Iskandar — Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat
- Fadli Zon — Menteri Kebudayaan
Daftar tersebut menggambarkan penilaian responden dalam survei Arawicaksa Institute. Hasil ini tidak dengan sendirinya membuktikan kinerja masing-masing pejabat secara objektif, melainkan mencerminkan persepsi publik yang diukur melalui metode survei.
Metode Survei Arawicaksa Institute
Arawicaksa Institute melaksanakan survei pada 3–8 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.200 responden yang diklaim mewakili seluruh provinsi di Indonesia. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka.
Responden dipilih menggunakan metode multistage random sampling atau pengambilan sampel acak bertahap. Survei tersebut memiliki margin of error sebesar ±2,89 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
Meski demikian, penilaian terhadap hasil survei perlu mempertimbangkan metodologi, pertanyaan yang diajukan kepada responden, serta indikator yang digunakan untuk mengukur persepsi terhadap kinerja menteri. []











