KETIKKABAR.com — Panitia Persiapan Pembentukan Kabupaten Aceh Raya akan membentuk empat forum masyarakat untuk mengonsolidasikan dukungan publik di tujuh kecamatan yang masuk wilayah calon daerah otonomi baru (CDOB) tersebut. Pembentukan forum ditargetkan berlangsung pada Oktober 2026 di Lhoknga.
Empat forum yang akan dibentuk yakni Forum Pemuda Aceh Raya, Forum Mahasiswa Aceh Raya, Forum Perempuan Aceh Raya, dan Gerakan Masyarakat Aceh Raya (GEMA Aceh Raya).
Inisiator Aceh Raya sekaligus Dewan Pengarah Panitia Persiapan Pembentukan Kabupaten Aceh Raya, H. Anwar Ahmad, SE.Ak, mengatakan pembentukan forum merupakan tindak lanjut arahan Bupati Aceh Besar dalam pertemuan dengan panitia di The Pade Hotel, Banda Aceh, pada 15 September 2026.
“Instruksi Bupati Aceh Besar jelas bahwa perjuangan pemekaran tidak boleh hanya menjadi urusan elite. Semua unsur masyarakat harus terlibat dan bergerak bersama,” kata Anwar Ahmad di Lhoknga, Rabu (07/10/2026).
Menurut mantan Wakil Bupati Aceh Besar periode 2007-2012 itu, empat forum tersebut akan menjadi instrumen untuk memperluas sosialisasi sekaligus menghimpun dukungan masyarakat terhadap rencana pembentukan Kabupaten Aceh Raya.
“Forum Pemuda, Forum Mahasiswa, Forum Perempuan dan GEMA Aceh Raya akan menjadi kekuatan masyarakat. GEMA Aceh Raya harus terus bergema dan tidak boleh padam,” ujarnya.
Panitia Petakan Potensi Tujuh Kecamatan
Anwar mengatakan Aceh Raya memiliki sejumlah modal yang dinilai dapat mendukung pembentukan daerah otonom baru, termasuk kesiapan lahan calon ibu kota dan potensi ekonomi di tujuh kecamatan.
Ia menyebut Aceh Raya telah memiliki lahan sekitar 60 hektare “Tanoh Reulet” di kawasan Lhoknga. Menurut dia, lahan tersebut merupakan hibah dari para Imeum Mukim di Lhoknga untuk kebutuhan calon ibu kota Aceh Raya.
“CDOB lain masih mencari lahan ibu kota. Aceh Raya Alhsmdulillah sudah memiliki lahan sekitar 60 hektare Tanoh Reuleut, di kawasan Lhoknga. Ini menjadi salah satu modal kesiapan kami”, katanya.
Selain kesiapan lahan, Anwar memperkirakan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Aceh Raya dapat mencapai sekitar Rp170 miliar. Potensi tersebut, kata dia, berasal dari sektor industri, perdagangan, pariwisata, perikanan, pertanian, serta sektor ekonomi lainnya.
Ia kemudian memetakan potensi tujuh kecamatan calon wilayah Aceh Raya. Lhoknga diproyeksikan sebagai pusat pemerintahan sekaligus kawasan industri, pertambangan, dan pariwisata. Kawasan itu memiliki industri semen serta destinasi wisata Pantai Lampuuk.
Peukan Bada disebut memiliki potensi wisata bahari dan perikanan. Darul Imarah diproyeksikan sebagai kawasan perdagangan modern, pusat perbelanjaan, dan permukiman.
Sementara Darul Kamal memiliki potensi pertanian dan agrokultur. Pulo Aceh mengandalkan sektor kelautan dan wisata kepulauan, terutama Pulau Breueh dan Pulau Nasi.
Adapun Lhoong memiliki potensi pertanian dan kawasan pesisir, sedangkan Leupung mengandalkan sektor perikanan dan ekowisata.
“Potensi tersebut menjadi modal penting bagi Aceh Raya. Karena itu, kita harus bersatu dan yakin bahwa Aceh Raya mampu berdiri sebagai daerah otonom baru,” ujar Anwar yang sekarang dipercayakan menjabat sebagai Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Aceh Besar.
Empat Forum Diberi Peran Berbeda
Anwar menjelaskan Forum Pemuda Aceh Raya akan diarahkan menjadi motor sosialisasi di tujuh kecamatan. Pemuda akan dilibatkan dalam sosialisasi kepada masyarakat, penggalangan dukungan, kegiatan sosial, aksi damai, hingga kampanye publik mengenai pembentukan Aceh Raya.
Forum Mahasiswa Aceh Raya akan melibatkan mahasiswa asal tujuh kecamatan yang menempuh pendidikan di berbagai daerah, termasuk Banda Aceh dan Jakarta.
Forum ini akan diarahkan menjadi jaringan komunikasi dan advokasi ke tingkat nasional, termasuk melakukan audiensi dengan lembaga-lembaga terkait di tingkat pusat.
Adapun Forum Perempuan Aceh Raya akan menghimpun berbagai kelompok perempuan, termasuk organisasi masyarakat, pelaku usaha, dan komunitas perempuan.
Menurut Anwar, keterlibatan perempuan diperlukan karena kelompok tersebut turut merasakan dampak jauhnya akses pelayanan pemerintahan.
“Perempuan harus menjadi bagian penting dalam perjuangan ini. Mereka juga merasakan langsung bagaimana jauhnya akses pelayanan administrasi dan pemerintahan dari sejumlah wilayah,” katanya.
Forum keempat, GEMA Aceh Raya, akan menjadi wadah bersama bagi seluruh unsur masyarakat. Elemen yang akan dilibatkan antara lain tokoh adat, ulama, Imeum Mukim, keuchik, pemuda, perempuan, pengusaha, pelaku wisata, nelayan, petani, lembaga swadaya masyarakat, dan media.
GEMA Aceh Raya juga akan diarahkan memperkuat konsolidasi di tingkat mukim dan gampong di tujuh kecamatan.
“Suara masyarakat harus dibangun dari bawah. Dari meunasah ke meunasah, gampong ke gampong, hingga akhirnya suara Aceh Raya terdengar sampai ke tingkat nasional,” ujar Anwar.
Deklarasi Ditargetkan Oktober
Panitia menargetkan pembentukan sekaligus deklarasi empat forum dilakukan pada Oktober 2026 di Lhoknga.
Agenda tersebut kemudian akan dilanjutkan dengan konsolidasi masyarakat serta peninjauan lahan hibah sekitar 60 hektare di kawasan Ga Reuleut yang diproyeksikan sebagai lokasi calon ibu kota Kabupaten Aceh Raya.
Anwar mengatakan konsolidasi empat forum diharapkan memperkuat proses pembentukan daerah otonomi baru tersebut.
“Dulu gagasan Aceh Raya hanya dibicarakan di warung kopi. Sekarang sudah ada panitia berdasarkan SK Bupati, ada lahan yang disiapkan dan berkas telah diproses. Tahap berikutnya adalah memastikan dukungan masyarakat benar-benar kuat,” katanya.
Panitia berharap konsolidasi tersebut dapat menunjukkan kesiapan Aceh Raya tidak hanya dari sisi administratif, tetapi juga dari dukungan masyarakat dan potensi ekonomi.
“Kalau empat forum ini bergerak bersama, Aceh Raya bukan hanya siap di atas kertas, tetapi juga siap di lapangan,” pungkas Anwar. []










