KETIKKABAR.com — Mengantisipasi ancaman musim kemarau yang lebih kering serta fenomena El Niño yang diprediksi bertahan hingga awal 2027, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) mengambil langkah proaktif dengan memperketat strategi pengelolaan air guna menjaga stabilitas operasional sekaligus mendukung ketahanan sumber daya air nasional.
Kebijakan strategis ini merujuk pada analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi cuaca ekstrem, yang menuntut sektor industri untuk semakin adaptif dan efisien dalam pemanfaatan air bersih.
Melalui peta jalan Target Keberlanjutan 2030, Solusi Bangun Indonesia konsisten mengoptimalkan pengurangan pengambilan air baku, pemanfaatan daur ulang, serta inovasi sumber air alternatif di seluruh fasilitas produksinya.
Komitmen ini bahkan telah membuahkan hasil signifikan, di mana capaian efisiensi perusahaan hingga tahun 2025 telah melampaui target awal tahun 2030.
Direktur Operasi Solusi Bangun Indonesia, Edi Sarwono, menegaskan bahwa pengelolaan air secara sirkular dan berbasis teknologi menjadi kunci penting dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan industri dan kelestarian lingkungan.
“Air merupakan sumber daya vital bagi kehidupan termasuk kegiatan ekonomi dan industri. Karena itu, kami terus berupaya menurunkan penggunaan air permukaan dengan memanfaatkan sumber air alternatif seperti pemanenan air hujan, penggunaan recycled water, serta penggunaan teknologi yang membantu mengoptimalkan distribusi air ke fasilitas produksi agar lebih efisien,” ujar Edi Sarwono.
Komitmen korporasi dalam menekan angka pengambilan air baku tercatat secara konkret dalam Laporan Keberlanjutan 2025.
Total pengambilan air baku secara keseluruhan turun menjadi 2.132 megaliter, disertai penurunan signifikan pada penggunaan air permukaan sebesar 18 persen dan air tanah hingga 11 persen.
Di sisi lain, volume pemanenan air hujan meningkat menjadi 734 megaliter, sementara pemanfaatan air daur ulang (recycled water) menyumbang 31,7 persen dari total kebutuhan operasional di empat pabrik utama.
Langkah adaptasi berbasis kearifan lokal dan teknologi juga diterapkan di berbagai unit pabrik, seperti Pabrik Lhoknga di Aceh yang sukses menekan penggunaan air baku dari sungai hingga 100 persen melalui optimalisasi penampungan air hujan.
Inovasi serupa diwujudkan di Pabrik Cilacap melalui pemanfaatan settling pond, serta penerapan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) dan Programmable Logic Control (PLC) pada River Pump Management di Pabrik Narogong, Jawa Barat.
“Ketahanan menghadapi perubahan iklim dibangun dari keputusan yang kita ambil hari ini. Setiap upaya untuk menggunakan kembali air, memanfaatkan sumber alternatif, dan mengurangi kehilangan air membantu menjaga ketersediaannya bagi operasi, lingkungan, maupun masyarakat,” kata Edi.
Melalui konsistensi penerapan prinsip-prinsip keberlanjutan tersebut, Solusi Bangun Indonesia tidak hanya berhasil mengamankan kontinuitas operasional di tengah ancaman krisis iklim global, tetapi juga turut serta melestarikan ketersediaan cadangan air bersih bagi ekosistem dan masyarakat di sekitar wilayah operasional.[]









