Internasional

Iran Siapkan ‘Kartu Truf’ Baru Jika Perang Kembali Meletus Pasca-Gencatan Senjata

KETIKKABAR.com – Pemerintah Iran secara resmi mengeklaim telah menyiapkan strategi tempur atau “kartu truf” baru untuk menghadapi Amerika Serikat (AS) apabila konflik bersenjata kembali pecah setelah masa gencatan senjata berakhir pada Kamis (23/4/2026).

Pernyataan tegas ini disampaikan oleh Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, melalui unggahan di media sosial X pada Senin (20/4/2026), sebagai respons terhadap tekanan yang diberikan oleh Presiden AS Donald Trump menjelang berakhirnya masa gencatan senjata selama dua pekan terakhir.

Ketegangan antara Teheran dan Washington memuncak seiring dengan keengganan Iran untuk melanjutkan meja perundingan.

Ghalibaf menegaskan bahwa negaranya tidak akan berkompromi selama pihak Amerika Serikat terus melayangkan ancaman dan melakukan blokade yang dianggap melanggar kesepakatan yang ada.

“Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman, dan dalam dua minggu terakhir kami telah bersiap untuk menunjukkan ‘kartu truf’ baru di medan perang,” tulis Ghalibaf dalam unggahannya.

BACA JUGA:
Ketegangan Memuncak di Teluk Persia, Menlu Iran Desak AS Segera Pergi

Langkah ini mempertegas posisi Iran yang memilih untuk memperkuat kesiapan militer daripada tunduk pada syarat-syarat yang diajukan oleh pemerintahan Trump dalam proses diplomasi tersebut.

Ghalibaf secara terbuka mengungkapkan alasan di balik penolakan Iran terhadap negosiasi lanjutan.

Ia menilai pendekatan yang digunakan oleh Donald Trump bukanlah upaya mencari solusi damai atau jalan tengah, melainkan sebuah taktik untuk memaksa Iran menyerah sepenuhnya kepada kepentingan Amerika Serikat.

“Trump, dengan menerapkan blokade dan melanggar gencatan senjata, berusaha mengubah meja perundingan ini dalam imajinasinya sendiri menjadi meja penyerahan diri atau sebagai pembenaran untuk kembali menyalakan perang,” ujar Ghalibaf.

Menurutnya, meja perundingan telah disalahgunakan oleh pihak Gedung Putih sebagai sarana pembenaran jika sewaktu-waktu AS memutuskan untuk memulai kembali agresi militer.

Pernyataan keras dari Teheran ini memicu ketidakpastian besar mengenai kelanjutan perundingan putaran kedua yang direncanakan berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada pekan ini.

BACA JUGA:
Gempa M7,8 Guncang Filipina, 17 Penerbangan di Bandara General Santos Dibatalkan

Di sisi lain, meskipun Iran menunjukkan sikap defensif yang agresif, pihak Amerika Serikat dilaporkan tetap mengupayakan jalur diplomasi.

Berdasarkan laporan dari sumber CNN, delegasi Amerika Serikat dikabarkan telah terbang menuju Islamabad untuk bersiap melanjutkan negosiasi.

Namun, dengan pernyataan penutup Ghalibaf yang kembali menegaskan, “Kami tidak menerima perundingan di bawah bayang-bayang ancaman, dan dalam dua pekan terakhir kami telah bersiap membuka kartu-kartu baru di medan perang,” nasib perdamaian di kawasan tersebut kini berada di ujung tanduk. []

TERKAIT LAINNYA