KETIKKABAR.com – Pemerintah Pakistan resmi mengusulkan putaran kedua perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada Selasa, 14 April 2026.
Langkah diplomatik ini diambil guna memecah kebuntuan setelah negosiasi sebelumnya di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan, yang memicu pemberlakuan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Kabar mengenai usulan perundingan baru ini mencuat di tengah sinyal beragam dari Washington. Presiden AS Donald Trump mengklaim telah dihubungi oleh pihak ketiga.
“Kami telah dihubungi oleh pihak lain” dan “mereka ingin mencapai kesepakatan,” ujar Trump, Senin lalu.
Kebuntuan Syarat Nuklir dan Isu Selat Hormuz
Kegagalan perundingan tahap pertama dipicu oleh perbedaan tajam mengenai komitmen nuklir dan isu keamanan kawasan.
Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan posisi keras Washington terhadap Teheran sebelum meninggalkan Pakistan.
“Faktanya sederhana, kami perlu perlu melihat komitmen yang tegas bahwa mereka tidak akan mengembangkan senjata nuklir dan tidak akan mencari kemampuan yang memungkinkan mereka dengan cepat mewujudkan senjata nuklir,” jelas JD Vance sebagaimana dikutip dari AP News.
Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengungkapkan munculnya variabel baru dalam meja perundingan yang memperumit situasi.
“Beberapa topik baru ditambahkan dalam perundingan kali ini, termasuk Selat Hormuz dan kawasan sekitarnya. Isu-isu ini memiliki kondisi dan persyaratan khusus masing-masing,” kata Esmail.
Eskalasi Regional: Israel-Hizbullah
Krisis tidak hanya terbatas pada hubungan Washington-Teheran. Di Washington, pembicaraan langsung antara Lebanon dan Israel dijadwalkan mulai Selasa ini guna mengupayakan gencatan senjata. Namun, prospek perdamaian dibayangi sikap skeptis dari kedua belah pihak yang bertikai.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan tujuannya bukan sekadar gencatan senjata, melainkan pelucutan senjata Hizbullah.
Sementara itu, pejabat senior Hizbullah menegaskan pihaknya tidak akan mematuhi perjanjian apa pun dari pembicaraan tersebut. Perang di Lebanon sendiri tercatat telah menewaskan sedikitnya 2.089 orang.
Risiko Ekonomi Global
Ketegangan di Selat Hormuz dan blokade pelabuhan Iran oleh militer AS kini menjadi titik api yang mengancam stabilitas ekonomi dunia.
Para analis memperingatkan bahwa konfrontasi ini dapat memicu runtuhnya gencatan senjata yang rapuh dan memulai kembali pertempuran skala besar di kawasan Timur Tengah, yang berdampak langsung pada rantai pasok energi global.[]











