Internasional

AS Keluarkan Peringatan Darurat, Warganya Diminta Segera Tinggalkan Iran

KETIKKABAR.com – Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengeluarkan peringatan darurat bagi seluruh warga negaranya yang masih berada di Iran menjelang dimulainya putaran penting perundingan dengan Washington di Oman, Jumat, 5 Februari 2026.

Peringatan ini diterbitkan di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa ketegangan antara kedua negara dapat berkembang menjadi konflik yang lebih luas.

Melalui Virtual Embassy di Iran, pemerintah AS pada Jumat pagi mendesak seluruh warga Amerika Serikat untuk “segera meninggalkan Iran” dan menyiapkan rencana keberangkatan yang tidak bergantung pada bantuan pemerintah AS.

Pesan tersebut dipublikasikan beberapa jam sebelum pembicaraan bilateral AS-Iran yang dijadwalkan berlangsung di Oman.

Dilansir CNBC International, peringatan itu dikeluarkan ketika negosiasi antara Washington dan Teheran masih menunjukkan sedikit kemajuan dalam menyusun agenda pembicaraan yang akan digelar di Muscat, ibu kota Oman.

Dalam pertemuan tersebut, Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner, direncanakan akan bertemu dengan delegasi Iran yang dipimpin Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

Namun hingga menjelang perundingan, kedua pihak belum menemukan titik temu terkait fokus utama pembahasan.

BACA JUGA:
50 Pasangan Yatim Piatu di Gaza Ikuti Nikah Massal

Amerika Serikat menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium dan membatasi program rudal balistiknya.

Sementara itu, Teheran menolak tuntutan tersebut dengan alasan melanggar kedaulatan nasional.

Ancaman aksi militer dari Presiden Donald Trump jika Iran menolak tuntutan tersebut turut menjadi latar belakang yang memperkuat kekhawatiran akan eskalasi konflik.

Peringatan keamanan bagi warga AS juga mencerminkan meningkatnya ketidakpastian situasi di Iran akibat ketegangan politik dan keamanan.

Dalam peringatan itu, pemerintah AS menyinggung kemungkinan pembatasan akses internet, risiko pembatalan atau gangguan penerbangan, serta pembatasan jaringan komunikasi seluler sebagai alasan tambahan bagi warga AS untuk segera meninggalkan negara tersebut.

Di sisi lain, Amerika Serikat dan Iran hampir delapan bulan tidak menggelar pertemuan diplomatik langsung sejak krisis besar pada Juni lalu.

Saat itu, konflik selama 12 hari antara Israel dan Iran memicu serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir utama Iran, yang semakin memperburuk hubungan bilateral dan stabilitas kawasan.

Permintaan AS agar Iran melepaskan cadangan uranium yang diperkaya, membatasi dukungan terhadap kelompok militan di Timur Tengah, serta melarang pendanaan aktor non-negara menjadi sejumlah titik perselisihan utama dalam hubungan kedua negara.

BACA JUGA:
Ribuan Tentara Israel Gangguan Jiwa akibat Perang Gaza, Terburuk dalam Sejarah

Iran menolak seluruh tuntutan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran kedaulatan. Teheran juga mengancam akan membalas setiap serangan militer dengan menyerang target militer AS di kawasan maupun Israel.

Peringatan untuk segera meninggalkan Iran mencerminkan kekhawatiran Washington bahwa dalam situasi hubungan yang tegang, pemerintah AS tidak dapat menjamin keselamatan warganya maupun menyediakan bantuan konsuler yang efektif.

Karena itu, warga AS diminta menyiapkan rencana keberangkatan secara mandiri di luar jalur bantuan resmi.

Sejumlah pakar menilai peluang keberhasilan perundingan di Oman relatif kecil karena tuntutan kedua pihak masih terpaut jauh.

Pada saat yang sama, kekuatan militer AS di kawasan Teluk Arab dilaporkan telah diperkuat dalam beberapa pekan terakhir sebagai bagian dari strategi tekanan untuk mendorong Teheran ke meja perundingan. []

Bom Bunuh Diri di Masjid Syiah Rawalpindi Tewaskan 31 Orang

TERKAIT LAINNYA