Internasional

Pengunjuk Rasa Iran Merasa Dikhianati Trump Usai Janji Bantuan Militer Batal

KETIKKABAR.com – Sejumlah pengunjuk rasa di Iran merasa dikhianati oleh Presiden AS Donald Trump setelah dukungan terbuka yang ia sampaikan di media sosial berakhir tanpa tindakan nyata.

Ketegangan ini memuncak ketika Trump tiba-tiba melunakkan retorikanya setelah sebelumnya berjanji akan mengirimkan bantuan militer kepada para demonstran.

Perubahan sikap ini memicu kemarahan publik yang merasa dipermainkan dan dijadikan umpan dalam konflik politik tersebut.

Kekecewaan warga Iran bermula dari unggahan Trump yang sangat provokatif dan menjanjikan hukuman berat bagi para pelaku kekerasan di Iran.

Melalui akun media sosialnya, Trump sempat menyerukan agar para pengunjuk rasa terus bergerak dan menguasai lembaga-lembaga negara.

“Para Patriot Iran, TERUS BERPROTES – KUASAI LEMBAGA-LEMBAGA KALIAN!!! Catat nama-nama para pembunuh dan pelaku kekerasan. Mereka akan membayar mahal. Saya telah membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran sampai pembunuhan tanpa akal sehat terhadap para demonstran BERHENTI. BANTUAN SEDANG DALAM PERJALANAN. MIGA!!! PRESIDEN DONALD J. TRUMP,” tulis Trump, Selasa (13/1/2026).

Namun, harapan warga Iran pupus ketika Trump mengumumkan telah menerima jaminan dari pemerintah Iran terkait penghentian eksekusi massal.

BACA JUGA:
Hampir Perang! Iran Ancam Tenggelamkan Kapal Destroyer AS dalam 30 Menit

Pengumuman ini dianggap sebagai sinyal bahwa AS membatalkan intervensi militer yang sangat dinantikan oleh para pengunjuk rasa di lapangan.

“I sangat menghargai fakta bahwa semua eksekusi gantung yang dijadwalkan kemarin (lebih dari 800 orang) telah dibatalkan oleh pimpinan Iran. Terima kasih! DONALD J. TRUMP PRESIDEN AMERIKA SERIKAT,” tulisnya di Truth Social, Sabtu (17/1/2026).

Para demonstran di Teheran menuding Trump memikul tanggung jawab moral atas ribuan korban jiwa yang jatuh karena percaya pada janji bantuan Amerika.

Banyak warga yang turun ke jalan karena meyakini militer AS benar-benar dalam posisi siap tempur untuk mendukung mereka.

“Trump bertanggung jawab atas kematian 15.000 orang ini,” kata seorang pengusaha di Teheran kepada majalah TIME yang diterbitkan Minggu (18/1/2026).

BACA JUGA:
Keamanan Siber Israel Jebol: Hacker Iran Klaim Curi 19.000 Dokumen Militer Eks Panglima IDF

Warga yang berhasil meninggalkan Iran menceritakan betapa hancurnya perasaan mereka saat menyadari dukungan Trump menghilang di saat kritis.

Mereka merasa digunakan sebagai alat tawar-menawar dalam kesepakatan rahasia antara Washington dan Teheran.

“Setelah Trump mengatakan bahwa pihak berwenang Iran telah memberitahunya tidak akan ada lagi pembunuhan dan eksekusi, semua orang terkejut,” ujar seorang warga Iran yang merasa dikhianati.

Bagi sebagian besar warga Iran, baik di dalam negeri maupun di perantauan, langkah Trump ini dipandang sebagai luka mendalam yang sulit disembuhkan.

Keyakinan bahwa AS akan membawa perubahan rezim kini berganti dengan ketidakpercayaan total terhadap kebijakan luar negeri Gedung Putih.

Sebagian besar pengamat dan warga kini pesimis gerakan protes dapat pulih kembali setelah kehilangan momentum dukungan internasional yang sempat dijanjikan. []

Trump Ancam Tarif 25% untuk Anggota NATO Jika Gagal Akuisisi Greenland

TERKAIT LAINNYA