KETIKKABAR.com – Mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengunggah esai berjudul Hari-hari yang Menentukan Sejarah Amerika dan Iran: Perang atau Damai? di akun media sosial X, Jumat malam, 27 Februari 2026.
Dalam tulisannya, ia menyoroti potensi perang besar antara Amerika Serikat dan Iran di tengah negosiasi nuklir yang sedang berlangsung.
SBY menyinggung tipikal kepemimpinan Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Iran Ali Khamenei yang menurut dia memiliki keunikan tersendiri.
“Keduanya memiliki ego, ambisi dan juga “personal interest”. Trump khawatir kalau sampai gagal, reputasi serta “legacy” indah yang ingin diraih bisa hancur berantakan. Ali Khamenei juga khawatir kalau sengketa sengit dengan Amerika ini, jika nasibnya naas, bisa berakhir dengan pergantian rezim dan “he must go”,” tulis SBY.
“Berarti, ini merupakan “survival interest” buat pemimpin Iran itu,” sebut SBY lagi.
Dalam esainya, SBY menggambarkan perundingan yang berlangsung di Jenewa sebagai momentum yang dapat menjadi “game change” bagi dunia. Ia menilai negosiasi proyek nuklir Iran sangat rumit karena perbedaan kepentingan kedua negara.
Menurut dia, kemungkinan perang bisa terjadi, tetapi juga bisa dihindari. Ia menekankan pentingnya pertimbangan rasional sebelum keputusan perang diambil, termasuk memperhitungkan apakah perang merupakan “war of necessity” atau “war of choice”.
SBY juga mengingatkan pengalaman pahit Amerika dalam perang di Vietnam, Irak, dan Afghanistan. Ia menulis bahwa Iran memiliki karakteristik berbeda dibandingkan negara-negara tersebut.
Di akhir tulisannya, SBY menyampaikan pesan kepada para pemimpin dunia agar berhati-hati dalam mengambil keputusan perang.
“Ada kalimat indah yang mesti diingat oleh para pemimpin politik – presiden atau perdana menteri – ‘Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for’ (Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati).”


















