KETIKKABAR.com – Kondisi di Iran saat ini disebut-sebut sebagai yang paling kritis sejak Revolusi Islam 1979. Gelombang protes nasional yang telah berlangsung selama lebih dari dua pekan kini meninggalkan jejak tragedi yang mendalam, seiring dengan meningkatnya intensitas tindakan keras dari aparat keamanan terhadap para demonstran.
Dikutip dari Associated Press, Rabu, 14 Januari 2026, kelompok aktivis Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan lonjakan drastis jumlah korban jiwa.
Dalam laporan terbarunya, HRANA menyebutkan sedikitnya 2.003 orang tewas di tengah operasi penumpasan oleh otoritas Iran.
Rincian Korban dan Penangkapan Massal
Berdasarkan data HRANA, dari total korban tewas tersebut, sekitar 1.850 orang adalah demonstran, sementara 135 orang berafiliasi dengan pemerintah.
Tragedi ini juga menyasar kelompok rentan.
“Sedikitnya sembilan anak-anak dan sembilan warga sipil yang tidak terlibat protes juga dilaporkan tewas. Selain itu, lebih dari 16.700 orang ditahan,” tulis laporan tersebut.
Laporan ini baru bisa terverifikasi setelah warga Iran, untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, dapat melakukan panggilan telepon ke luar negeri. Sebelumnya, pemerintah Teheran memutus total akses komunikasi selama operasi penumpasan berlangsung.
Televisi pemerintah Iran akhirnya mengakui adanya korban jiwa setelah lama bungkam. Meski demikian, mereka tidak merilis angka pasti. Pejabat setempat hanya menyebut adanya “banyak martir” dan beralasan bahwa keterlambatan pengumuman data disebabkan oleh kondisi jenazah yang sulit diidentifikasi akibat luka parah.
Dari Krisis Ekonomi ke Tuntutan Politik
Protes ini bermula dari kemarahan publik terhadap memburuknya kondisi ekonomi, terutama runtuhnya nilai tukar Rial Iran. Massa yang awalnya turun ke jalan karena isu ekonomi, dalam waktu singkat mengubah tuntutan menjadi gerakan politik yang menyasar rezim teokrasi.
Demonstran mulai secara terbuka meneriakkan slogan yang menyasar Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang kini berusia 86 tahun. Tindakan ini sebelumnya dianggap sebagai hal yang sangat tabu dan berbahaya di Iran.
Respons Keras Donald Trump
Situasi memanas ini memancing reaksi keras dari Washington. Melalui platform Truth Social, Presiden AS Donald Trump memberikan dukungannya secara terbuka kepada para demonstran dengan seruan provokatif:
“Para Patriot Iran, TERUSLAH BERPROTES – KUASAI INSTITUSI KALIAN!!!” tulis Trump.
Selain memberikan dukungan moral, Trump menyatakan telah membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran hingga penumpasan demonstran dihentikan. Namun, ia tidak merinci lebih lanjut mengenai bentuk “bantuan” yang dijanjikannya bagi para pengunjuk rasa.
Secara historis, pemerintah Iran cenderung mengecilkan jumlah korban demonstran dan melabeli mereka sebagai “perusuh yang didukung asing”.
Sebaliknya, Amerika Serikat kerap menggunakan data dari kelompok aktivis seperti HRANA untuk menekan rezim Iran di panggung internasional. []
Bukan Lagi Ancaman, Pakar Sebut Perang Dunia III Telah Dimulai


















