Internasional

Lawan Operasi Militer Trump, Rusia Resmi Akui Delcy Rodriguez Sebagai Pemimpin Venezuela!

KETIKKABAR.com – Pemerintah Rusia secara resmi menyatakan dukungan penuh terhadap penunjukan Delcy Rodriguez sebagai Presiden Interim Venezuela pada Selasa, 6 Januari 2026, waktu setempat.

Moskow berdalih langkah ini merupakan upaya untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di negara Amerika Latin tersebut pasca-tumbangnya rezim Nicolas Maduro.

Kementerian Luar Negeri Rusia merilis pernyataan keras yang membela kedaulatan Venezuela. Moskow menilai Caracas kini berada di bawah ancaman neokolonial yang nyata serta potensi agresi bersenjata dari kekuatan asing.

“Kami dengan tegas mendesak agar Venezuela dijamin haknya untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tangan eksternal yang bersifat merusak,” tulis pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Rusia sebagaimana dikutip dari Reuters, Rabu, 7 Januari 2026.

Kecaman Tersirat untuk Donald Trump

Meski tidak menyebut Amerika Serikat secara gamblang, pernyataan diplomatik ini muncul hanya beberapa hari setelah aksi drastis Presiden Donald Trump. Pada Sabtu lalu, Trump mengerahkan pasukan khusus dalam sebuah operasi militer untuk menangkap Nicolas Maduro.

BACA JUGA:
Mantan Intelijen CIA: Trump Klaim China Setuju Hentikan Pasokan Senjata ke Iran

Rusia menegaskan bahwa langkah-langkah yang diambil pemerintahan Rodriguez saat ini merupakan bentuk pertahanan diri yang sah.

Moskow berkomitmen untuk berdiri di belakang pemerintahan baru Venezuela guna menghadapi tekanan internasional yang dipelopori Washington.

“Kami menyambut baik upaya yang dilakukan oleh otoritas resmi negara ini untuk melindungi kedaulatan negara dan kepentingan nasional. Kami menegaskan kembali solidaritas Rusia yang tak tergoyahkan kepada rakyat dan pemerintah Venezuela,” lanjut pernyataan tersebut.

Ancaman Zona Pengaruh Global

Kejatuhan Maduro menjadi tamparan bagi pengaruh geopolitik Kremlin di kawasan Amerika Latin. Maduro merupakan sekutu dekat kedua Rusia yang tumbang dalam setahun terakhir, menyusul Bashar al-Assad di Suriah. Kondisi ini memicu spekulasi mengenai kembalinya dominasi mutlak Amerika Serikat di belahan bumi Barat.

BACA JUGA:
Indonesia-Rusia Matangkan Rencana Pembangunan Kilang dan Storage

Menanggapi hal tersebut, seorang sumber senior di lingkaran pemerintahan Rusia memberikan peringatan keras terkait keseimbangan kekuasaan global.

“Jika Trump menegaskan kembali Doktrin Monroe yang dihidupkan lagi mengenai dominasi AS di Belahan Bumi Barat, maka Rusia juga memiliki hak atas zona pengaruhnya sendiri,” ungkap sumber tersebut kepada Reuters.

Sikap Hati-hati Vladimir Putin

Di sisi lain, Presiden Vladimir Putin terpantau masih sangat berhati-hati dalam menjaga sikap langsung terhadap Donald Trump.

Putin tampaknya tengah berhitung matang, mengingat adanya kepentingan besar Rusia untuk mengakhiri konflik di Ukraina dan memulihkan hubungan ekonomi dengan AS.

Putin belum memberikan komentar pribadi secara langsung mengenai penangkapan Maduro. Namun, kecaman keras yang dirilis oleh kementeriannya dianggap telah merepresentasikan posisi diplomasi Rusia saat ini. []

Trump Boyong Raksasa Minyak AS Garap Cadangan Terbesar Dunia di Venezuela

TERKAIT LAINNYA