Internasional

Pimpinan Geng Anti-Hamas Yasser Abu Shabab Tewas

KETIKKABAR.com – Kelompok Pasukan Rakyat Gaza, yang dikenal sebagai salah satu geng bersenjata Palestina yang berafiliasi dengan Israel dalam memerangi Hamas, mengonfirmasi bahwa pemimpin mereka, Yasser Abu Shabab, telah tewas dibunuh dalam sebuah perselisihan keluarga.

Kelompok tersebut menegaskan bahwa kematian Abu Shabab bukan akibat tindakan Hamas, meskipun berita mengenai pembunuhannya sempat mencuat di media sosial dan menjadi sorotan publik.

“Kami ingin menegaskan bahwa Abu Shabab terbunuh saat mencoba menyelesaikan perselisihan antara anggota keluarga Abu Seneima,” ujar juru bicara kelompok Pasukan Rakyat Gaza, dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh Al Jazeera, Jumat (5/12/2025).

Kelompok tersebut juga menyebut bahwa terdapat laporan menyesatkan yang menyebutkan bahwa Abu Shabab dibunuh oleh Hamas.

“Mereka terlalu lemah untuk melukai [Abu Shabab],” imbuh mereka, menggunakan narasi yang mendukung Israel dengan menyebut Hamas sebagai “kelompok teroris.”

Kematian Yasser Abu Shabab, yang memimpin salah satu kelompok anti-Hamas terbesar di Gaza, dinilai sebagai pukulan besar bagi upaya Zionis Israel dalam mendukung kelompok-klompok anti-Hamas di wilayah tersebut.

Abu Shabab, seorang pemimpin suku Badui yang berbasis di Rafah, selatan Gaza, telah lama menjadi tokoh kontroversial.

Kelompok yang dipimpinnya selama ini membantah bahwa mereka menerima dukungan dari Israel meskipun terdapat pengakuan dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada bulan Juni lalu yang menyebutkan bahwa Israel memang mempersenjatai klan-klan anti-Hamas.

“Abu Shabab telah memimpin kelompok bersenjata yang berperan dalam memerangi Hamas, dan kematiannya akan memberikan dorongan bagi Hamas,” ujar sejumlah sumber keamanan.

BACA JUGA:
Irak Membara! Amerika Serikat Perintahkan Seluruh Warganya Segera Angkat Kaki

Hamas sebelumnya telah mencap Abu Shabab sebagai kolaborator dan mengeluarkan perintah untuk menangkap atau membunuhnya.

Sumber media Israel menggambarkan kematiannya sebagai kemenangan bagi Hamas, yang telah menanggapi kelompok tersebut sebagai ancaman.

Pada hari Kamis (4/12/2025), militer Israel mengonfirmasi bahwa mereka telah menewaskan sekitar 40 militan Hamas yang terperangkap di terowongan di bawah Rafah, sebagai bagian dari upaya mereka untuk memerangi kekuatan Hamas di wilayah tersebut.

Namun, meski telah terjadi baku tembak dan kekerasan di Rafah, termasuk laporan bahwa empat tentara Israel terluka, Israel tidak memberikan komentar terkait kematian Abu Shabab.

Kematian yang Memicu Polemik

Kematian Abu Shabab pertama kali dilaporkan oleh media Israel, termasuk Radio Tentara Israel, yang mengutip sumber-sumber keamanan Zionis.

Namun, rumah sakit Soroka di Israel selatan, yang dikatakan tempat Abu Shabab dirawat, membantah telah menerima jasad atau korban tersebut.

Israel sendiri menolak untuk memberikan komentar lebih lanjut mengenai laporan kematian tersebut.

Selain itu, kelompok Pasukan Rakyat Gaza menegaskan bahwa mereka tidak menerima bantuan langsung dari Israel dalam operasi militer mereka, meskipun keterlibatan Israel dalam mendukung klan-klan anti-Hamas telah diakui. Pemerintah Israel tetap berhati-hati dalam mengonfirmasi hubungan ini.

Analis politik Palestina, Reham Owda, mengatakan bahwa kematian Abu Shabab bisa memicu keraguan di kalangan kelompok-kelompok anti-Hamas lainnya tentang kemampuan mereka untuk menantang dominasi Hamas di Gaza.

BACA JUGA:
Trump Ancam Ambil Paksa Uranium Iran dan Buka Peluang Serangan Udara Baru

“Kematian ini menunjukkan bahwa tantangan terhadap Hamas tidak semudah yang dibayangkan,” ujar Owda.

Dalam konteks yang lebih luas, kebijakan Israel mendukung kelompok-kelompok anti-Hamas di Gaza telah berkembang sejak serangan 7 Oktober 2023, yang dilakukan Hamas terhadap komunitas-komunitas di Israel selatan.

Israel kemudian meluncurkan serangan besar-besaran di Gaza dengan tujuan untuk menghancurkan kekuasaan Hamas.

Pada Juli 2025, Abu Shabab dalam sebuah wawancara dengan Wall Street Journal menyatakan bahwa kelompoknya telah mendirikan pemerintahan sendiri di wilayah Rafah, dan ia mendesak Amerika Serikat serta negara-negara Arab untuk mengakui dan mendukungnya.

Namun, hingga kini, Hamas tetap menentang klaim tersebut dan menuduh Abu Shabab menjarah truk-truk bantuan PBB selama perang, meskipun kelompoknya membantahnya dengan menyebut mereka telah melindungi dan mengawal bantuan.

Arah Masa Depan Gaza

Dengan tewasnya Abu Shabab, pertanyaan besar tentang masa depan Gaza semakin menggantung. Beberapa kelompok anti-Hamas lainnya yang telah muncul di wilayah yang dikuasai Israel kini dihadapkan pada tantangan besar untuk mempertahankan eksistensi mereka dalam menghadapi dominasi Hamas yang masih kuat.

Hal ini juga mempertegas ketegangan geopolitik yang melibatkan Israel, Hamas, dan berbagai aktor internasional lainnya dalam upaya menciptakan stabilitas di kawasan tersebut. []

Taiwan Terancam, China Kerahkan Kapal Perang di Selat Taiwan dan Laut China Selatan!

TERKAIT LAINNYA