KETIKKABAR.com – Kontroversi ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) memasuki babak baru yang lebih serius.
Kali ini, mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Sofian Effendi, melontarkan tuduhan mengejutkan: skripsi Jokowi diduga hasil jiplakan dan tidak pernah diuji secara resmi.
Dalam sebuah wawancara yang viral di media sosial, Prof. Sofian secara terbuka menyebut bahwa karya ilmiah akhir Jokowi bukanlah hasil orisinal dan bahkan tidak memenuhi prosedur akademik standar.
“Skripsinya sebenarnya adalah contekan dari pidatonya Prof Soenardi, salah satu dekan setelah Pak Soemitro. Tidak pernah lulus. Tidak pernah diujikan. Lembar pengesahannya kosong,” ujar Sofian dalam tayangan tersebut.
Menurut Sofian, Jokowi seharusnya tidak layak menulis skripsi karena nilai akademiknya (IPK) pada dua tahun pertama kuliah tidak memenuhi syarat untuk melanjutkan ke jenjang sarjana.
“Dia belum memenuhi persyaratan untuk menulis skripsi. IPK-nya di bawah 2. Nilainya tidak mencukupi. Makanya ada pertanyaan besar,” lanjutnya.
Prof. Sofian mengaku telah melakukan pengecekan langsung ke bagian administrasi akademik UGM.
“Saya tanya ke petugasnya, ‘Mbak ini kok kosong?’ Dia jawab, ‘Iya, Pak, itu memang nggak diuji. Nggak ada nilainya. Makanya nggak ada tanggal, nggak ada tanda tangan dosen penguji’,” kata Sofian.
Jika tudingan ini benar, maka hal ini bisa menjadi pukulan besar terhadap integritas akademik Jokowi serta memperpanjang daftar kejanggalan dalam riwayat pendidikannya.
Baca juga: Eks Rektor UGM, Prof. Sofian Effendi Bongkar Perbedaan Jokowi dan Mulyono saat Kuliah
Nama Prof. Dr. Soenardi Prawirohatmodjo, yang disebut sebagai sumber pidato yang diduga dijiplak, kini ikut menjadi sorotan publik.
Lahir di Wonogiri pada 8 Maret 1929, Prof. Soenardi merupakan pejuang kemerdekaan yang kemudian merintis karier akademik di dunia kehutanan. Ia adalah salah satu pendiri Fakultas Kehutanan UGM dan pernah menjabat sebagai Dekan serta Ketua Jurusan Teknologi Hasil Hutan.
Pada 18 Oktober 1984, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar dengan pidato berjudul “Kayu, Ilmu Kayu, Teknologi Kayu, dan Masa Depannya.” Pidato inilah yang menurut Prof. Sofian, menjadi materi yang dijiplak dalam skripsi Jokowi.
Prof. Soenardi wafat pada 24 April 2021 dalam usia 92 tahun.
Tudingan plagiarisme ini bukan satu-satunya sorotan terhadap rekam jejak akademik Jokowi.
Sebelumnya, publik juga dibuat bingung dengan pengakuan Ir. Kasmudjo, dosen UGM yang disebut Jokowi sebagai pembimbing skripsinya dalam acara Dies Natalis UGM 2017.
Namun, Kasmudjo kemudian membantah klaim tersebut.
“Saya tidak membimbing, tidak mengetahui prosesnya. Saya hanya asisten dosen, tidak berwenang membimbing skripsi,” kata Kasmudjo.
Selain itu, IPK Jokowi juga disebut tidak memenuhi syarat untuk lanjut ke jenjang sarjana. Klaim ini disampaikan oleh Prof. Sofian dalam wawancara yang sama, berdasarkan transkrip nilai yang pernah dilihatnya.
Menanggapi rangkaian tudingan yang menyerangnya, Jokowi akhirnya buka suara. Ia menyebut bahwa ada agenda politik besar di balik isu ijazah palsu dan wacana pemakzulan.
“Saya berperasaan memang kelihatannya ada agenda besar politik di balik isu-isu ini. Untuk menurunkan reputasi politik saya, untuk men-downgrade,” ujar Jokowi pada Senin (14/7/2025).
Presiden Jokowi juga telah mengambil langkah hukum dengan melaporkan sejumlah pihak atas dugaan pencemaran nama baik.
Sementara itu, Ahli Forensik Digital Rismon Sianipar juga melaporkan Jokowi atas dugaan menyebarkan keterangan palsu terkait status dosen pembimbingnya.[]











